Minggu, 02/12/2012

Keberadaan Mal Justru Kurangi Kemacetan Jakarta

-jktproperty.com
Share on: 645 Views
Keberadaan Mal Justru Kurangi Kemacetan Jakarta

jktproperty.com | Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akhir pekan lalu mengatakan pihaknya akan besikap tegas dalam menentukan apakah akan memperpanjang moratorium izin pembangunan mal (pusat perbelanjaan) baru di Jakarta atau mencabut moratorium tersebut. Menurut Ahok, bila kehadiran mal malah melahirkan titik-titik kemacetan baru di Jakarta, maka izin pembangunan mal tak akan dikeluarkan. Sedangkan untuk mal yang sudah beroperasi (existing) dan diketahui menjadi sumber kemacetan, pihaknya tengah mempertimbangkan meminta kompensasi pengelola mal untuk memberikan sumbangan dalam bentuk bus yang nantinya akan dikelola dan dioperasikan TransJakarta.

Moratorium izin pembangunan mal baru di Jakarta diberlakukan sejak akhir 2011 yang salah satu pertimbangannya karena mal dianggap sebagai biang keladi kemacetan lalu-lintas di sejumlah ruas jalan di ibukota. Pada 2010 pihak Polda Metro Jaya mengungkapkan mal merupakan salah satu penyebab kemacetan di Jakarta. Penempatan mal yang tak disesuaikan dengan tata letak kota seringkali memperparah kondisi lalu lintas yang sedang macet. Plaza Semanggi misalnya, letak lokasi pintu masuknya berada persis di depan Jl. Gatot Subroto atau putaran bundaran Semanggi menyebabkan kemacetan parah. Demikian pula halnya dengan Pusat Grosir Cililitan, Atrium, City Walk, dan Mall Of Indonesia, La Piazza, dan Blok M Plaza.

Saya bertanya-tanya, benarkah mal biang keladi kemcaten lalu-lintas di Jakarta? Mana yang kontribusinya lebih besar sebagai biang kemacetan, mal atau kendaraan bermotor roda dua dan empat yang jumlahnya di Jakarta sangat spektakuler. Data di Polda Metro Jaya pada akhir 2011 menyebutkan jumlah kendaraan pribadi di ibukota mencapai 13.347.802 unit. Rinciannya, mobil penumpang 2.541.351 unit, mobil angkutan barang 581.290 unit, bus 363.710, dan sepeda motor 9.861.451 unit. Pertumbuhan jumlah kendaraan per tahun mencapai 10%-12%, sedangkan pertumbuhan jalan hanya 0,01% setiap tahunnya.

Melewati Daya Dukung

Prof. Suyono Dikun, pakar teknik sipil Universitas Indonesia bahkan berani bertaruh bahwa tahun depan [2013] Jakarta akan mengalami apa yang dinamakan gridlock, kemacetan total. “Mau pakai ukuran apa pun, Jakarta sudah melewati batas daya dukungnya. Daya dukung terhadap kehidupan nyaman dan layak sudah mentok di Jakarta ini,” katanya.

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya juga melihat ada indikasi makin panjangnya jam kemacetan di Jakarta. Jika beberapa tahun lalu kepadatan kendaraan di ruas-ruas jalan utama di Jakarta sudah terurai sekitar pk.21.00, saat ini mundur hingga pk.23.00. Bahkan saat diguyur hujan dan memasuki akhir pekan, kemacetan masih saja terlihat hingga pk.02.00 dini hari.

Melihat makin panjangnya ‘durasi kemacetan lalu-lintas’ di Jakarta, saya malah berani mengatakan bahwa keberadaan mal atau pusat perbelanjaan di Jakarta justru mengurangi kemacetan di Jakarta. Argumentasinya, karena mal-mal ini, selain ramai didatangi pengunjung pada saat istirahat atau makan siang, juga ramai dikunjungi pada saat usai jam kerja (after office hour).

Artinya, dengan jumlah sekira 170 mal atau pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta dan katakanlah rata-rata mal itu memiliki daya tampung parkir 5.000 kendaraan, maka ada sekira 850.000 kendaraan yang tidak beredar di jalanan. Bayangkan kalau tidak ada mal dan 850.000 kendaraan yang parkir di mal itu tumpah ruah di jalan-jalan Jakarta, tentu kemacetan akan semakin parah.

Tulisan ini hanya ingin menggaris tebal bahwa kontributor utama kemacetan parah di Jakarta bukan semata hanya disebabkan karena berdirinya mal-mal di sejumlah lokasi. Seperti dikatakan seorang pakar di atas, bahwa Jakarta sudah melewati batas daya dukungnya, yang perlu dilakukan saat ini adalah membangun sarana transportasi massa secara besar-besaran untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Kalau soal kemacetan yang tercipta di sepanjang ruas menuju pintu masuk mal, saya kira itu hanya persoalan traffic management yang kasuistik dan tak bisa digebyah-uyah dengan mengatakan semua mal bikin macet. Tak ada mal pun di daerah itu memang sudah macet. Atau kalau mau lebih ekstrim, dicoba saja seluruh mal di Jakarta tutup serempak, apakah Jakarta lantas bebas dari kemacetan? Lagi pula bukan hanya mal, kadangkala jam masuk atau jam keluar di sebuah sekolah juga membuat kemacetan. Lalu apakah harus ada moratorium izin pembangunan sekolah?

Soal moratorium mal, Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Jokowi-Ahok, saya kira akan mengambil langkah yang bijaksana. Sebab sekarang ini untuk membangun mal, pengembang berhitung dengan sangat hati-hati, tak sekadar latah, karena persaingan mal di Jakarta saat ini sudah sedemikian ketat dan banyak yang justru melakukan ekspansi ke pinggiran Jakarta. Fakta juga mengatakan bahwa tak sedikit pengelola mal di Jakarta yang tergopoh-gopoh dalam memikat hari para retailers. Artinya, bila toh moratorium dicabut, itu tidak lantas membuat pengembang berlomba-lomba membangun mal baru. Persaingan sudah sangat amat ketat bung! (Deddy H. Pakpahan)