Senin, 30/06/2014

Kampanye Pilpres Tak Dongkrak Okupansi Hotel Berbintang

-jktproperty.com
Share on: 575 Views
Kampanye Pilpres Tak Dongkrak Okupansi Hotel Berbintang

JAKARTA, jktproperty.com – Putaran kampanye Pemilu Legislatif (pileg) dan Pemilu Presiden (pilpres) 2014 diakui pelaku bisnis perhotelan tidak mendongkrak okupansi hotel secara signifikan. Hal itu disebabkan karena peserta pemilu, baik pileg maupun pilpres, cenderung memanfaatkan media sosial atau lapangan terbuka untuk berkampanye ketimbang memanfaatkan pertemuan-pertemuan yang dulu biasa diselenggarakan di hotel-hotel berbintang.

Menurut Monica A. Rahmadona, Marketing Communication Royal Kuningan Hotel, tidak ada lonjakan signifikan okupansi hotel selama masa kampanye pileg maupun pilpres. “Okupansi kami tetap berada di angka 50%-60%. Tidak ada lonjakan yang berarti,” katanya kepada jktproperty.com.

Menurut dia, untuk menggenjot okupansi, pihak Royal Kuningan Hotel melakukan strategi co-branding dengan menggandeng beberapa perusahaan ternama untuk menggelar event di hotel berbintang empat yang berlokasi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan ini. “Selain itu kami kerjasama dengan blogger untuk mempromosikan kuliner yang ada di hotel ini.”

Royal Kuningan memiliki 369 kamar berdesain modern minimalis, dengan berbagai tipe kamar antara lain Deluxe, Grand Deluxe, Premier, Executive, Heritage dan Royal Heritage.

Sebelumnya, Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Yanti Sukamdani mengatakan, kampanyepileg dan pilpres tidak berdampak langsung terhadap industri pariwisata, khususnya perhotelan. “Tingkat hunian kamar nyaris tidak mengalami kenaikan signifikan, karena saat kampanye justru kegiatan lebih banyak dilakukan di luar ruangan bukan di dalam ruangan,” katanya.

Menurut Yanti, data tingkat hunian hotel pada masa kampanye pemilu nyaris tidak mengalami peningkatan signifikan. Tingkat hunian kamar hotel selama Januari-Maret 2014 justru tercatat turun, dimana di Jakarta rerata hanya 60%, kemudian Bali (55%), Batam (65%), Yogyakarta (60%) dan di Indonesia Timur rata-rata 55%-60%. (EKA)