Jumat, 20/06/2014

Johanes Mardjuki: “Kami Pelaku Usaha Bukan Pelaku Kriminal”

-jktproperty.com
Share on: 701 Views
Johanes Mardjuki: “Kami Pelaku Usaha Bukan Pelaku Kriminal”
Johanes Mardjuki

JAKARTA, jktproperty – Langkah Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) yang akan memidanakan puluhan pengembang karena dianggap tidak mematuhi ketentuan hunian berimbang yang tertuang di dalam Undang-Undang No.1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman dan UU No.20/2011 tentang Rumah Susun, sangat disayangkan pengembang. Penggunaan istilah ‘pengembang nakal’ juga membuat merah telinga pengembang.

Setidaknya itulah yang dirasakan Johanes Mardjuki, Direktur Utama PT Summaregon Agung Tbk., salah satu pengembang kota mandiri papan atas. “Istilah itu [‘pengembang nakal’] saya pikir sangat mengganggu. Kami ini pelaku usaha dan bukan pelaku kriminal yang harus dipidana,” katanya kepada jktproperty.com.

Menurut dia, selaku pelaku usaha, pengembang selama ini menjalankan usahanya sesuai aturan main yang berlaku, termasuk aturan main yang ada di dalam Undang-Undang No.1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman dan UU No.20/2011 tentang Rumah Susun. “Kalau memang ada kelalaian yang dilakukan pengembang, Menpera seharusnya memberi tahu. Tapi sampai hari ini kami belum pernah mendapat surat dari Kemenpera,” tutur Johanes.

Soal pembangunan hunian berimbang, demikian Johanes, pada era 1990-an Summarecon Agung sudah melakukannya. Summarecon membangun hunian bagi masyarakat berpenghasilan kurang mampu di daerah Kuningan, Serang dan Banten. Tapi sekarang tidak dilakukan mengingat mahalnya harga lahan di hampir semua wilayah,” katanya.

Program pembangunan perumahan bagi masyarakat kurang mampu, kata dia, adalah juga tanggung jawab pemerintah. “Faktanya di lapangan harga tanah sudah selangit, harusnya pemerintah melihat fakta ini. Bagaimana mungkin pengembang membangun rumah murah di atas lahan yang harganya sudah selangit. Pemerintah dan pengembang harus duduk bersama untuk mencari solusinya dan saya kira memidanakan pengembang sangat tidak tepat,” tambah Johanes. (DHP)