Kamis, 19/04/2012

Jakarta dan Bali Masih Jadi Episentrum Pengembangan Properti

-jktproperty.com
Share on: Facebook 508 Views
Jakarta dan Bali Masih Jadi Episentrum Pengembangan Properti

JAKARTA: Pertanyaan klasik cenderung kritis yang selalu mengapung ke permukaan saat bicara mengenai industri properti Indonesia adalah mengapa pertumbuhannya terkonsentrasi di Jakarta dan Bali? Sedemikian minimkah potensi ekonomi Indonesia yang memiliki 17.504 pulau [7.870 di antaranya telah memiliki nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama], sehingga industri properti seperti hanya layak bergulir di Jakarta dan Bali?

Seperti diakui Hasan Pamudji, Senior Manager Research Knight Frank Indonesia, dibandingkan daerah lain di Indonesia, investasi sektor properti di Jakarta dan Bali memang yang tertinggi. “Pertumbuhan properti di Jakarta dan Bali saat ini masih berada di kisaran angka 15%-20%,” katanya.

Apalagi, kata dia, peningkatan status peringkat Indonesia menjadi investment grade semakin mendorong aliran investasi masuk ke Jakarta dan Bali. Selain faktor itu, lanjut Hasan, harga lahan di Jakarta dan Bali masih jauh lebih murah dibandingkan dengan kota-kota besar di dunia. Harga tanah termahal di Jakarta saat ini misalnya, mencapai sekitar US$2.900 atau sekitar Rp26 juta per m2. Harga itu masih sangat murah dibandingkan harga tanah di Monaco yang mencapai US$58.300 atau sekitar Rp535 juta per m2.

Barometer Perekonomian

Selain itu, investor juga melihat Jakarta sebagai barometer perekonomian Indonesia. Stabilitas politik juga merupakan kunci utama masuknya investasi properti. “Coba bandingkan dengan Thailand, stabilitas politik Indonesia jauh lebih kondusif,” kata Hasan.

Lantas bagaimana dengan Bali? Menurut dia, properti di Bali diminati orang asing karena reputasi Bali sebagai objek wisata kelas dunia. “Indikasinya, banyak orang asing yang membeli vila di Bali. Mereka rata-rata berasal dari Australia, Singapura dan Jerman,” tuturnya.

Tapi apakah benar Jakarta dan Bali adalah surga investasi properti? Menurut Tony Eddy, chairman Tony Eddy & Associates, saat ini Bali memang belum ‘kehabisan nafas’ untuk dijadikan fokus pembangunan dan investasi properti. Tapi untuk Jakarta, kata dia, subsektor properti seperti kondominium sudah tidak bisa lagi diandalkan untuk tujuan investasi.

Pandangan Tony tampaknya senada dengan apa yang pekan ini disampaikan konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia bahwa stagnasi permintaan dan tingginya suplai kondominium di Jakarta bisa menjerumuskan subsektor properti ini pada market bubble.

“Bahkan harga jual beberapa kondominium di Jakarta cenderung turun. Ada juga yang sudah 10 tahun dibeli tapi harganya tidak kunjung naik. Ini jelas merugikan bagi investor yang mengharapkan capital gain dari properti yang dibelinya. Demikian pula halnya dengan sewa, dimana kondominium lama harus bertarung dengan kondominium baru dengan perbedaan harga yang tipis,” ujar Tony.

Tony bahkan menantang pengembang untuk masuk ke pasar-pasar properti yang baru atau membuka pasar baru di banyak daerah di Indonesia. “Saya kira ke depan pengembang harus berani menciptakan market yang baru. Seperti misalnya membangun properti di kawasan Danau Toba di Samosir, Sumatera Utara. Kenapa tidak? Panorama alamnya cukup indah dan banyak turis asing datang ke sana,” ungkapnya.

Hal itu tentu saja sudah banyak dipertimbangkan pengembang. Hanya saja persoalannya, infrastruktur di banyak daerah di Indonesia belum mendukung terlaksananya investasi properti. Mengembangkan pulau-pulau yang telantar dengan menawarkannya kepada investor asing juga sebenarnya bisa dilakukan pemerintah Indonesia dengan mengubah perangkat hukum menjadi lebih akomodatif terhadap investor, terutama asing. (JR/SIN/DHP)