Selasa, 07/10/2014

IPW: Pengembang Cenderung Latah Bangun Proyek Properti

-jktproperty.com
Share on: 1505 Views
IPW: Pengembang Cenderung Latah Bangun Proyek Properti
Sumber: Indonesia Property Watch
CENDERUNG LATAH: Indonesia Property Watch menilai pengembang cenderung latah dalam membangun proyek-proyek propertinya. Hal itu berakibat pada terjadinya kejenuhan pasar di beberapa kota di Indonesia.

BERDASARKAN pengamatan yang dilakukan oleh Indonesia Property Watch (IPW) terhadap pergerakan bisnis properti ditanah air, terdapat beberapa lokasi yang perlu diwaspadai terkait dengan potensi kejenuhan pasar akibat ancaman over supply di masa mendatang. Kejenuhan pasar terjadi karena pengembang cenderung latah dalam membangun proyek-proyek propertinya.

Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda dalam laman indonesiapropertywatch.com mengatakan pengamatan terhadap siklus pasar properti menjadi dasar analisis yang telah dibuktikan dengan market warning pada tahun 2010 mengenai perlambatan pasar properti di tahun 2014 yang nyata telah terjadi saat ini.

Meskipun demikian, kata dia, tidak semua lokasi mengalami perlambatan karena beberapa sektor di beberapa lokasi justru menunjukkan peningkatan menyusul perkembangan pasar properti di Jabodetabek yang relatif sudah jenuh. Yang terjadi adalah pergeseran dari sebuah sektor ke sektor lain dikarenakan kondisi pasar yang telah jenuh.

Secara umum diperlihatkan bahwa segmen hunian landed mengalami pergeseran dari segmen atas ke segmen menengah (Rp500 juta – Rp1 miliar) sedangkan di sektor apartemen juga terjadi pergeseran ke segmen menengah (Rp300 juta – Rp500 juta). Namun demikian, IPW mengingatkan  fenomena latah masih mewarnai pembangunan di Indonesia.

“Seperti terlihat maraknya pengembangan apartemen menengah yang sangat banyak memasuki wilayah Serpong dan Bekasi. Semua pengembang mengklaim mempunyai pasar yang potensial, namun perlu kehati-hatian dari konsumen ketika pasokan semakin banyak sedangkan pasar tidak bertumbuh seperti yang diharapkan,” katanya.

Lebih lanjut IPW mengungkapkan fenomena apartemen telah muncul di Serpong dikarenakan harga tanah yang sudah semakin tinggi di wilayah ini mengakibatkan pengembang lebih memilih pengembangan hunian vertikal untuk memberikan tingkat optimalisasi lahan yang lebih baik. Pasokan untuk rumah mewah pun semakin terbatas karena harga sudah mencapai titik jenuh untuk dibangun rumah mewah.

Latahnya pengembang juga terlihat di sektor perhotelan, terutama di Bali. Padahal pasar hotel di Pulau Dewata ini sudah jenuh. dengan banyaknya investor yang berlomba-lomba membangun hotel. Aktifitas ini membuat harga tanah ikut terkerek naik dan semakin tinggi. Namun ternyata tidak menyurutkan investor untuk membangun hotel meskipun secara investasi dipertanyakan tingkat kelayakannya dengan harga tanah yang sudah membumbung tinggi.

Di Indonesia Timur masih ada secercah harapan. Bisnis properti di kawasan ini ternyata malah menunjukkan perkembangan yang cukup baik mengejar ketinggalannya dari properti wilayah Barat. Sebut saja Surabaya dan Makassar yang masih berpeluang untuk sektor komersial.

“Namun tentunya ketika sebuah wilayah mempunyai potensi, maka biasanya fenomena latah akan kembali muncul dengan banyaknya inevstor yang ikutan masuk ke sektor yang sama di wilayah yang sama. Waspada akan batasan limitasi pasar seharusnya menjadi pertimbangan sehingga pasar properti lebih sehat dan solid,” tutur Ali. (LEO)