Jumat, 06/10/2017

IPW: “Bank BUMN Harus Pelopori Penurunan Suku Bunga KPR”

-jktproperty.com
Share on: 441 Views
IPW: “Bank BUMN Harus Pelopori Penurunan Suku Bunga KPR”
Foto: Ilustrasi
BUNGA KPR BANK BUMN: Bank BUMN seharusnya dapat menjadi pelopor dalam penurunan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga BI 7 Days Repo dua kali per 22 Agustus 2017 yakni 4,5% dan 22 September 2017 turun lagi 4,25% namun suku bunga KPR bank BUMN tetap tidak bergerak turun.

JAKARTA – Bank BUMN seharusnya dapat menjadi pelopor dalam penurunan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga BI 7 Days Repo dua kali per 22 Agustus 2017 yakni 4,5% dan 22 September 2017 turun lagi 4,25% namun suku bunga KPR bank BUMN tetap tidak bergerak turun.

Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch (IPW) mengatakan, seharusnya penurunan itu mendorong perbankan untuk dapat juga menurunkan suku bunga KPR. Namun nyatanya suku bunga acuan di beberapa bank termasuk Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN masih berada di kisaran 10,25%-10,5%.

Ali mengakui diperlukan waktu untuk penyesuaian suku bunga tersebut. Namun, menurut dia, dengan kondisi saat ini, dia merasa bank-bank BUMN bergerak sangat lambat. “Bagaimana bisa mengerakkan sektor riil bila bank BUMN masih mematok bunga tinggi. Spread suku bunga sudah terlalu tinggi, harusnya pemerintah melalui BI dan OJK dapat melakukan sedikit ‘paksaan’ kepada bank BUMN agar dapat menurunkan suku bunga KPRnya,” tutur Ali pekan ini.

Dia memaparkan di negara lain spread antara safe rate dengan bunga KPR antara 3%-3,5% dibandingkan di Indonesia yang saat ini bisa mencapai 6%. “Itu terlalu tinggi dan hanya menguntungkan perbankan.”

Berdasarkan analisis IPW, faktor suku bunga dan tingkat penjualan rumah memperlihatkan keterikatan yang kuat.

Dengan adanya penurunan suku bunga, terdapat kemungkinan besar tingkat penjualan properti akan naik juga. Setiap penurunan 1% suku bunga KPR, pangsa pasar KPR naik 4%-5%. Dengan suku bunga BI saat ini, sangat dimungkinkan terjadi penurunan suku bunga KPR sampai satu digit menyentuh level 7%-8%.

“Dengan demikian, potensi pertumbuhan KPR akan sangat tinggi dapat mencapai 10%-15% pada 2017. Pertumbuhan KPR ini harus terus digenjot di tengah perlambatan yang masih terjadi di pasar perumahan dan properti,” lanjutnya.

Ali mengutarakan beberapa alasan yang dikemukan perbankan sehingga belum dapat menurunkan suku bunga memperlihatkan bahwa efisiensi perbankan nasional masih jauh dari baik.

Penyebab lain terkait dengan lambatnya penurunan suku bunga kredit adalah peningkatan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sehingga membuat bank sangat waspada dalam mengelola portofolionya.

Namun, lanjutnya, dengan tetap mematok suku bunga di level yang tinggi, sektor riil pun tidak berputar dan dikhawatirkan malah membuat NPL makin tinggi. “Perbankan terutama BUMN harus segera menurunkan suku bunganya agar pasar properti dapat bergerak positif,” kata Ali. (EKA)