Senin, 06/04/2015

Investor Perlu Waspada, Pasar Properti Overvalue

-jktproperty.com
Share on: 1465 Views
Investor Perlu Waspada, Pasar Properti <em>Overvalue</em>
Ilustrasi
PASAR PROPERTI OVERVALUE: kondisi pasar properti di Indonesia secara umum telah overvalue atau berada di atas nilai yang sesungguhnya sehingga hal tersebut dinilai juga harus menjadi perhatian investor properti dan juga pelaku bisnis properti.

JAKARTA, jktproperty.com – Pengamat properti Ali Tranghanda mengungkapkan kondisi pasar properti di Indonesia secara umum telah overvalue atau berada di atas nilai yang sesungguhnya sehingga hal tersebut dinilai juga harus menjadi perhatian investor properti dan juga pelaku bisnis properti

“Khususnya di segmen menengah atas hingga properti mewah, semuanya sudah overvalue. Buktinya sederhana saja, beberapa investor mengatakan bahwa mereka kesulitan untuk menjual kembali propertinya karena harganya sudah ketinggian,” kata Ali yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch ini di Jakarta akhir pekan lalu.

Menurut dia, Indonesia Property Watch pernah memberikan pendapatnya terkait hal tersebut di mana disebutkan bahwa di beberapa lokasi harga jual properti sudah tidak terkendali dan memasuki titik jenuh. “Tapi kenyataannya masih saja banyak investor yang membeli dengan asumsi dan harapan akan terus naik. Dalam pergerakan pasar properti sama seperti ekonomi mempunyai siklus pasar yang kerap diabaikan oleh investor,” katanya.

Dengan kondisi yang overvalue, kata dia, likuiditas pasar properti akan menjadi semakin rendah. “Sehingga kalau pun dijual, maka harga properti akan terkoreksi.”

Kondisi inilah yang membuat beberapa pengembang melakukan penyesuaian harga propertinya di pasar primer, terutama untuk segmen menengah atas. Namun, lanjut dia, hal itu belum cukup dipakai sebagai ‘senjata’ meningkatkan likuiditas industri properti mengingat perekonomian Indonesia belum pulih sejak peralihan kepemimpinan nasional. “Namun siklus politik saat ini sudah mulai terpisah dengan siklus ekonomi, terbukti dengan kebijakan Bank Indonesia yang segera menurunkan BI Rate dari 7,75% menjadi 7,5% dan diperkirakan dalam tren menurun sampai akhir 2015,” katanya.

Selain itu, Ali berpendapat bahwa fluktuasi rupiah ternyata hanya kejutan sesaat dan tidak akan memengaruhi pasar properti secara signifikan sehingga hal itu akan segera berlalu karena sektor riil dan investasi akan kembali bergairah. (LEO)