Jumat, 01/07/2011

Investasi Properti Asia Pasifik Sangat Menjanjikan

-jktproperty.com
Share on: 399 Views
Investasi Properti Asia Pasifik Sangat Menjanjikan

JAKARTA: Tahun 2010 menandai dimulainya perubahan haluan (titik balik) kesuksesan investasi properti di Asia Pasifik. Momentum dan sentimen investor yang kuat ini diprediksi akan terus berlanjut sampai akhir 2011, meskipun terjadi perlambatan yang bersifat musiman pada kuartal 1-2011.

Konsultan properti Cushman & Wakefield mengungkapkan, iklim investasi properti di kawasan Asia Pasifik yang terus meningkat didukung oleh pemulihan ekonomi solid, akses kredit yang mudah bagi para investor, dan banyaknya asset properti yang mempunyai prospek baik.

Dengan kondisi tersebut total volume investasi pada kuartal 1-2011 mengalami kenaikan 14% dibandingkan periode yang sama 2010 lalu. Minat investor membenamkan investasinya di sektor properti di kawasan Asia Pasifik mencakup beragam sektor. Investasi properti komersial, kata dia, menyumbang 51% dari seluruh penjualan investasi sector properti di Asia Pasifik pada tahun 2010.

Sementara investasi properti ritel menyumbang 22% dan investasi properti industri memberikan kontribusi sebesar 11%. Investasi di sektor properti komersial secara regional merupakan yang paling banyak diminati para investor selama 2010 dan itu juga terlihat pada kuartal 1-2011, dimana terjadi pemulihan harga sewa akibat meningkatnya permintaan sewa dari penghuni gedung yang terlihat masih terus melakukan ekspansi.

Minat investor di gedung perkantoran utama (primer) terkonsentrasi di Singapura, Hongkong, Shanghai dan Beijing, dimana harga sewa ruang kantor di daerah CBD (dalam US$) pada 2010 mengalami perbaikan hingga 78%. Harga sewa ruang kantor di CBD Hongkong mengalami pemulihan sewa sebesar 78%, sementara di Beijing meningkat sebesar 70%, di Shanghai sebesar 78% dan sebesar 42% di Singapura.

Sektor properti ritel juga menarik minat para investor secara signifikan selama 2010 dan pada kuartal 1-2011. Hal ini disebabkan karena meningkatnya konsumerisme di Asia Pasifik, terutama di China yang didorong urbanisasi yang sangat cepat. Peritel mulai dari jenis makanan dan peritel umum, mode dan busana, barang-barang mewah – baik domestic maupun internasional – tengah melakukan ekspansi di semua pasar-pasar utama di kawasan Asia Pasifik.

Didukung dengan fundamental yang solid, akuisisi asset-aset sector ritel tetap aktif tahun ini. Transaksi ritel di kawasan Asia Pasifik mencapai US$4,6 miliar pada kuartal pertama 2011 ini, jauh di atas volume pada umumnya sebesar US$4,3 miliar yang dicapai selama periode yang sama sejak 2007. Transaksi ritel yang paling menonjol di Asia Pasifik terjadi di tujuan lokasi pusat perbelanjaan yang popular.

Aset sektor industri di Asia Pasifik juga cukup diminati para investor di tahun 2010. Investasi properti sektor industri mencapai US$9,22 miliar pada 2010 atau mencerminkan peningkatan 84% dibandingkan 2009. Minat terhadap asset-aset properti sektor industri didasari karena adanya pemulihan keadaan ekonomi yang diharapkan berlanjut di Asia Pasifik dan didorong ekspansi sektor manufaktur.

Mengenai aliran modal yang masuk ke kawasan Asia Pasifik, Cushman $ Wakefield melihatnya bersifat ‘interregional’ dan memperlihatkan tingkat likuiditas yang tinggi didalam kawasan. Secara volume, aliran modal terbesar tampaknya datang dari Canada. Minat dari dana pensiun besar dari Amerika Serikat meningkat. Dari kawasan Eropa, aliran modal terkuat datang dari Belanda dan Jerman. Peningkatan aliran modal dari kawasan Skandinavia diprediksi juga akan meningkat.

Dalam hal aliran modal keluar, dana dari Malaysia dan Korea sangat aktif di pasar London. “Dan kami sekarang melihat minat yang kuat di pasar-pasar Eropa Barat, Tengah dan Timur dari Singapura, Malaysia, China dan Korea Selatan. Walaupun belum banyak terjadi akuisisi signifikan di Amerika Serikat oleh investor Asia, kami memprediksi akan terjadi perubahan pada kuartal 1-2011, dimulai dengan minat berinvestasi di kota-kota utama,” ujar Glenn J. Rufrano, President dan CEO Cushman & Wakefield Inc., saat berkunjung ke Jakarta bulan lalu.

Lebih lanjut Glenn mengatakan pulihnya kawasan Asia Pasifik didasari oleh pertumbuhan domestik yang kuat, ditopang oleh tingkat pekerjaan dan kenaikan pendapatan yang berkesinambungan. Pertumbuhan GDP diperkirakan rata-rata 5.2% pada 2011 atau yang tertingi diantara tiga kawasan global. Meningkatnya harga sewa ruang kantor yang berkelanjutan, didukung oleh permintaan sewa yang kuat dari penghuni ruang kantor yang melakukan ekspansi, akan mendorong investor untuk membeli gedung-gedung komersial di kota-kota besar utama di kawasan ini, namun kami memprediksi adanya minat yang mulai muncul di negara-negara berkembang menjelang akhir tahun.

Aset-aset sector ritel berpotensi untuk menikmati terjadinya pertumbuhan akibat ekspansi yang cepat dari para peritel. Di China, India dan Indonesia, prospek sector property ritel cukup baik dengan meningkatnya jumlah dan kesejahteraan penduduknya. Tingkat kesejahteraan di kawasan ini yang meningkat memberikan kontribusi untuk kuatnya pariwisata antar Negara Asia dan tingkat konsumsi kawasan, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap penjualan ritel yang lebih tinggi. Sementara asset properti sector perhotelan akan menjadi incaran atau pertimbangan para investor global karena meningkatnya tren pariwisata domestik dan internasional. Ekspansi besar-besaran yang terjadi pada pasar properti di Asia Pasifik, demikian Glenn, juga memunculkan kekhawatiran terjadinya bubble properti.

“Setelah China terkena hantaman bubble, ketika harga-harga properti naik dan kian tak mampu diikuti oleh daya beli, Vietnam saat ini tengah menunggu waktu mengalami hal serupa. Vietnam mengalami bubble karena kebanyakan pinjaman dan inflasinya tinggi,” katanya.

Saat ini, menurut dia, pinjaman di sektor properti di Vietnam terlihat berlebihan dan dikhawatirkan Vietnam akan mengalami hal serupa seperti yang dialami China. Sementara itu Handa Sulaiman, Executive Director Cushman and Wakefield Indonesia, mengatakan kondisi bubble di Vietnam saat ini memang sudah terjadi, tetapi belum sampai pada puncaknya.

“Lima sampai sepuluh tahun lalu orang masih negatif dengan Indonesia, dan Vietnam dianggap lebih baik dari kita. Tapi, kini mereka tengah mengalami bubble, tinggal menunggu saja kapan meledaknya,” ujar Handa.

Lalu, apakah pasar properti Indonesia juga akan mengalaminya? Handa mengatakan, hal itu tidak akan terjadi saat ini. Pasalnya, pertumbuhan pasar properti di Indonesia tumbuh perlahan, namun pasti. “Tidak akan bubble karena pinjaman untuk properti di Indonesia masih sedikit, apalagi dari perbankan itu masih terbatas. Meski investasi lima sampai sepuluh tahun lalu, tetap akan ada untungnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, ada tiga penyebab lambatnya pertumbuhan pasar properti di Indonesia. Pertama, terbatasnya pinjaman; kedua, regulasi yang mengatur kepemilikan properti oleh asing; dan ketiga adalah karena lambatnya pembangunan infrastruktur.

“Infrastruktur sangat penting peranannya bagi perkembangan properti di Indonesia. Tidak ada alternatif lain untuk mengembangkan properti selain memperbaiki unfrastruktur yang sudah ada dan membangun infrastruktur yang baru,” katanya. Sayangnya, di dalam ‘Asia Pacific Property Investment Report 2011’ yang dipublikasikan Cushman & Wakefield Inc., posisi pasar properti Jakarta atau Indonesia secara umum tidak dipetakan secara jelas. Apakah karena aliran investasi yang masuk ke Indonesia terlampau kecil, sehingga pasarnya belum diperhitungkan di lingkup Asia Pasifik? (LEO)