Senin, 03/12/2007

Industri Properti Nasional Mulai Overheat?

-jktproperty.com
Share on: 485 Views
Industri Properti Nasional Mulai Overheat?

JAKARTA: Bagi industri properti nasional 2007 merupakan tahun penuh kejutan. Ada yang mengatakan ini tahun yang penuh keberuntungan karena bila semua angka dijumlahkan hasilnya adalah angka 9, angka yang diyakini sebagai angka hoki oleh saudara kita etnis Tionghoa. Lantas, bagaimana dengan 2008? Apakah keberuntungan juga masih tetap berpihak, mengingat kalau semua angka dijumlahkan hasilnya nol?

Terlepas dari percaya atau tidak dengan keyakinan akan angka-angka yang membawa hoki atau malah mendatangkan sial, sebagian besar pengembang nasional menatap 2008 dengan penuh optimisme. Memang, beberapa perusahaan properti go public tahun ini mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan dan membukukan kerugian.

Sebut saja PT Jakarta Setiabudi International Tbk yang merugi Rp24,18 miliar, kemudian PT Suryamas Dutamakmur Tbk (Rp3,51 miliar), dan PT Hotel Sahid Jaya (Rp9,96 miliar). Bahkan PT Duta Pertiwi Tbk (Sinar Mas Group) mencatat penurunan asset dari Rp4,66 triliun menjadi Rp4,53 triliun selama periode Juni 2006-Juni 2007. Namun tidak sedikit perusahaan publik di sektor ini membukukan keuntungan dan mampu meningkatkan asetnya secara dramatis.

Dari Ciputra Grup, asset PT Ciputra Development Tbk meningkat dari Rp4,29 triliun pada Juni 2006 menjadi Rp5,29 triliun per Juni 2007. Kemudian perusahaan property di bawah grup Bakrie, PT Bakrieland Development, yang mengalami peningkatan asset dari Rp2,3 triliun pada semester I-2006 menjadi Rp5,29 triliun pada semester I-2007. PT Pakuwon Jati Tbk (Pakuwon Group) mampu mendongkrak asetnya dari Rp1,69 triliun menjadi Rp3,13 triliun, kemudian PT Summarecon Agung Tbk dari Rp1,98 triliun menjadi Rp2,5 triliun atau PT Jaya Real Property Tbk yang mampu meningkatkan asetnya dari Rp1,59 triliun menjadi Rp1,82 triliun.

Aset yang dimiliki pengembang itu sama sekali memang bukan ukuran melihat kekuatan peta persaingan bisnis atau bahkan prospek dari sebuah perusahaan property. Namun dengan kekuatan asset yang dimiliki, setidaknya merupakan modal kuat bagi mereka untuk mengembangkan usahanya di kemudian hari. Satu hal yang perlu menjadi catatan penting selama 2007 adalah bangkitnya sang legenda property Ir. Ciputra yang sejak krisis ekonomi 1997 lalu terlihat lebih berkonsentrasi di proyek-proyek property luar negeri, baik di Vietnam, India, Malaysia, dan kawasan Timur Tengah.

Di dalam negeri boleh dikatakan tidak ada proyek property skala besar yang digarap Ciputra Group. Ciputra terkesan seperti kehilangan ambisi menggarap industri property dalam negeri. Faktanya tidak demikian. Di paruh akhir tahun ini, tidak tanggung-tanggung, Ciputra Group me-launch pembangunan dua superblok sekaligus, yakni Ciputra World di Jakarta dan Surabaya. Investasi yang ditanamkan di kedua proyek ini tidak tanggung-tanggung, sekitar Rp7 triliun. Ciputra World Jakarta sebenarnya merupakan proyek yang sudah tertunda 10 tahun.

Dulu, Ciputra memberinya nama Grand Mall Ciputra. Tapi karena krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan negara-negara Asia di akhir 1997 lalu, proyek ini harus mangkrak. Bisa dipastikan bangkitnya ‘Sang Legenda Properti’ dalam industri property nasional akan mengubah peta persaingan bisnis property nasional. Sebab, kelompok usaha property seperti Lippo Group yang sukses melepas unit REITs di Singapura, Agung Podomoro Group, Pakuwon Group, Bakrie Group, Duta Anggada Group, Gapura Prima Group, dan beberapa pemain besar lainnya belum memberikan sinyal akan mengerem pembangunan proyek propertinya.

Malah di 2008 mereka akan semakin hot membangun proyek property baru, tidak hanya di Jakarta, melainkan juga di daerah. Kecenderungan yang muncul sekarang ini, hampir semua pengembang besar memiliki obsesi membangun superblok dengan fasilitas yang lengkap. Membangun sebuah kota di dalam kota. Bangunan property mixed use ini dinilai lebih mudah dijual ketimbang membangun apartemen, perkantoran, atau pusat perbelanjaan di lokasi yang berbeda-beda. Ke depan, pembangunan proyek property di Jakarta memang mengarah pada pembangunan superblok yang terkoneksi dengan sarana dan prasarana kota, termasuk infrastruktur jalan seperti bus way dan monorail.

Meskipun pasar diprediksi tetap mampu menyerap proyek-proyek property yang dilepas pengembang dalam kurun waktu 1-2 tahun ke depan, kelebihan pasok tetap akan menjadi ancaman serius yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Pada titik ini seharusnya pemerintah jeli melihat pasar property dengan mengeluarkan aturan baru yang memperbolehkan asing memiliki property di Indonesia.

Kebijakan yang diharapkan mungkin tidak perlu drastis seperti yang sudah dilakukan pemerintah Singapura atau Malaysia. Tapi, kran kebijakan seperti itu harus segera dibuka sebelum industri ini mengalami overheat yang bisa menggiring industri ini pada property crash babak kedua. Persoalan memberikan hak atas asing untuk membeli property di Indonesia sama sekali bukan persoalan nasionalisme. Nasionalisme sendiri merupakan paham atau ideology yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan suatu negara.

Apakah orang asing yang membeli satu unit kondominium di Jakarta sudah bisa dianggap mengancam kedaulatan Indonesia? Jawabannya tentu tidak. Sama halnya dengan orang Indonesia yang memborong kondominium di Singapura, mereka tidak pernah dituduh mengganggu kedaulatan Singapura. Malah pemerintah Singapura perlu merasa bersyukur karena orang Indonesia mendatangkan devisa yang tidak sedikit dengan memborong kondominium yang ditawarkan pengembang di sana. (Deddy H. Pakpahan)