Senin, 29/01/2018

Indonesian Arts Exhibition, Komitmen Jababeka Jadi Pusat Budaya Internasional

-jktproperty.com
Share on: Facebook 295 Views
Indonesian Arts Exhibition, Komitmen Jababeka Jadi Pusat Budaya Internasional
Foto: Ist
PAMERAN SENI RUPA: PT Jababeka Tbk., pengembang kota mandiri terbesar di Indonesia dengan 1.700 perusahaan multinasional dari 30 negara, mengadakan pameran seni rupa bertajuk “Indonesian Arts Exhibition: Standing With The Masters” (IAE) yang berlangsung pada 17-21 Januari 2018 lalu di Jababeka Convention Center. Acara pameran seni terbesar di Cikarang tersebut menghadirkan karya maestro dari Galeri OHD Museum, Galeri NU, karya seniman Ancol, Budi Bonsai Collection, dan Harry Lee China Ceramic Collection. IAE juga memamerkan 159 karya seni baik lukis, patung, instalasi dan berbagai bentuk lainnya. Tampak dalam gambar (kiri-kanan): Pianis Harry Darsono, Menteri Agraria dan Tata Ruang RI Sofyan Djalil dan Dr. Oei Hong Djien selaku perwakilan Kedutaan Besar Hungaria sedang meninjau pameran “Indonesian Arts Exhibition: Standing With The Masters” (IAE).

JAKARTA, jktproperty.com – PT Jababeka Tbk, pengembang kota mandiri terbesar di Indonesia dengan 1.700 perusahaan multinasional dari 30 negara, mengadakan pameran seni rupa bertajuk “Indonesian Arts Exhibition: Standing With The Masters” (IAE) yang berlangsung pada 17-21 Januari 2018 lalu di Jababeka Convention Center.

Acara pameran seni terbesar di Cikarang tersebut menghadirkan karya maestro dari Galeri OHD Museum, Galeri NU, karya seniman Ancol, Budi Bonsai Collection, dan Harry Lee China Ceramic Collection. IAE juga memamerkan 159 karya seni baik lukis, patung, instalasi dan berbagai bentuk lainnya.

Jababeka mengadakan IAE sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan seni dan budaya yang dapat menjadi kunci daya saing industri Indonesia di persaingan global. Hal tersebut turut diamini oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil.

Dalam pidatonya Sofyan mengatakan Indonesia mempunyai warisan budaya yang sangat besar, maka seni dan budaya dapat menjadi inspirasi dan modal besar industri Indonesia untuk meningkatkan daya saing melalui desain produk, desain kemasan dan perfilman.

“Upaya Jababeka dalam mendukung perkembangan seni budaya Indonesia melalui acara IAE di kawasan yang berbasis industri ini perlu diapresiasi sebagai pelopor, sehingga kami harap ke depannya semakin banyak sarana-sarana seperti ini muncul di kawasan-kawasan lain dan semakin banyak masyarakat Indonesia yang dapat menikmati karya seni Indonesia,” katanya.

Turut berkontribusi besar dalam acara IAE adalah Dr. Oei Hong Djien, kolektor seni dan pemilik Galeri OHD Museum yang menyumbangkan beberapa koleksi seni maestro milik pribadi untuk dipamerkan. Beliau tak menyangka kawasan Jababeka di Cikarang yang lekat dengan persepsi kawasan industri kini telah menjelma menjadi kota mandiri modern dengan pengembangan-pengembangan seperti Jababeka Residence, President University, CBD, Medical City, Indonesia Movieland, Jababeka Golf & Country Club, Jababeka Convention Center dan lain-lain.

“Acara IAE menunjukkan bahwa kawasan Jababeka adalah kota mandiri yang sudah siap menjadi Cultural and Tourism Destination kelas dunia. Saya pikir misi Jababeka ini bukan mimpi belaka, karena di luar negeri pun sudah ada wacana untuk memindahkan acara seni besar ke pinggiran kota, asal fasilitas pendukung seperti hotel dan lainnya memadai, maka acara seni besar di pinggiran kota pasti bisa sukses” ujar Dr. Oei Hong Djien. “Jika dibilang IAE adalah pameran internasional, saya tidak malu. Bahkan di Jakarta saja tidak sebesar ini,” tambahnya.

Sementara Chairman dan Founder Jababeka Group SD Darmono berharap IAE dapat diadakan minimal setahun sekali, sehingga menjadi wadah bagi komunitas internasional di kawasan Jababeka dengan keberadaan lebih dari 1.700 perusahaan multinasional dari 30 negara. Dengan demikian keberadaan IAE dapat meningkatkan potensi investasi di Indonesia dan mendongkrak nilai properti wilayah Jababeka dan sekitarnya.

“Dengan begitu nilai tambah kita meningkat, harga properti juga meningkat. Tanah juga nilainya bisa naik, kalau 2 juta km persegi tanah di kita harganya satu dolar saja, itu bisa 2 triliun dolar, lalu kemudian dihargai 10 dolar karena adanya seni dan budaya bisa jadi 20 triliun dolar, kita paling kaya di dunia,” papar Darmono.

Namun begitu, Darmono menyadari bahwa untuk meningkatkan nilai tambah produk di Indonesia tidak hanya bisa dilakukan melalui pameran bertaraf internasional yang hanya sekali dua kali saja. Hal itu harus dilakukan secara terus menerus dan melibatkan banyak pihak. Jababeka hanya sebagai pemantik saja agar ke depan banyak pihak yang dapat terlibat dalam pembangunan di kawasan industri.

“Kita ingin tunjukkan ke khalayak ramai bahwa ini bukan hanya industri saja, ini ada residensial, ini ada budaya, sehingga sangat pantas untuk menjadi tempat tinggal taraf internasional dan bisa jadi destinasi wisata juga dan segala macam yang bisa membuat developer di Indonesia mengikutinya,” pungkas Darmono.

IAE bekerjasama dengan Program Studi DKV (Desain Komunikasi Visual) President University, yang menampilkan President University Student Orchestra, Marching Band SMA Presiden, serta berbagai tarian selamat datang dari siswa-siswi SMP dan SD Presiden. IAE didukung oleh 48 hotel, 215 restoran, 15 executive spa, 21 business club, 3 lapangan golf, 1 stadium olahraga, 1 waterpark dan 7 entertainment center. (EKA)