Selasa, 11/12/2012

Ibnu Tadji: “Asing Bebas Beli Properti, Rakyat Makin Sulit Punya Rumah”

-jktproperty.com
Share on: 506 Views
Ibnu Tadji: “Asing Bebas Beli Properti, Rakyat Makin Sulit Punya Rumah”

JAKARTA: Sinyal pemerintah yang mengisyaratkan akan membuka kran kepemilikan properti oleh orang asing di Indonesia ditanggapi Asosiasi Penghuni Rumah Susun Seluruh Indonesia (APERSSI) dengan nada kontra. Menurut APERSSI, kalau orang asing dibebaskan membeli properti di Indonesia maka rakyat makin sulit memiliki rumah.

Ketua Umum APERSSI Ibnu Tadji mengatakan, rakyat tidak mungkin lagi bisa membeli rumah karena ada kenaikan harga yang sangat tinggi dari liberalisasi kepemilikan properti. “Pemerintah pun tidak bisa lagi melakukan subsidi karena harga rumah akan tinggi sekali,” katanya.

Dia mengatakan kepemilikan properti oleh asing membuat pengembang akan memperoleh untung lebih besar, sementara rakyat dikorbankan. “Pengembang maunya izin diberikan secara langsung tidak lagi 25 tahun dan diperpanjang dua kali, 20 tahun dan 25 tahun, tapi langsung diberikan misalnya 70 atau 90 tahun,” ujarnya.

Sebelumnya dalam Rakernas Real Estate Indonesia (REI) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi ‘lampu hijau’ dan menyetujui usulan pengembang untuk menerbitkan aturan kepemilikan properti oleh asing. SBY juga berharap masukan dari para pengusaha properti disimak dan ditindaklanjuti oleh kementerian terkait.

Selama ini dalam UU Pokok Agraria No.5/1960, negara hanya memberikan kesempatan kepada orang asing untuk dapat menggunakan tanah di wilayah Indonesia hanya melalui hak pakai atas tanah negara. Sedangkan di dalam PP No.41/1996 tentang pemilikan rumah tinggal dan hunian untuk orang asing telah memberikan kesempatan kepada asing untuk tinggal di Indonesia melalui pemberian hak atas tanah negara dan penguasaan melalui perjanjian dengan pemilik hak atas tanah selama 25 tahun dan dapat diperpanjang lagi.

“Yang dikhawatirkan adalah liberalisasi di bidang properti yang memberikan dampak pada persediaan lahan dan properti di Indonesia. Kepemilikan properti oleh asing secara otomotis akan membuat harga properti melejit naik, harga ditentukan bukan oleh pasar domestik tapi regional,” tambah Ibnu. (YUS)