Senin, 17/12/2012

Hingga 2015 Jakarta Akan Dibanjiri 4.000 Kamar Hotel Baru

-jktproperty.com
Share on: 519 Views
Hingga 2015 Jakarta Akan Dibanjiri 4.000 Kamar Hotel Baru

JAKARTA: Konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia mengungkapkan hingga 2015 mendatang Jakarta akan dibanjiri 4.000 kamar hotel baru. Sebagian besar hotel yang akan masuk pasar tersebut merupakan hotel bujet. Didorong permintaan yang tinggi, dalam kurun waktu 1-2 tahun ke belakang pengembang memang giat membangun hotel bujet di Jakarta. Arief Rahardjo, Head of Research Cushman & Wakefield Indonesia, mengatakan pasar hotel bujet di Jakarta memang cukup prospektif. Hal itu diantisipasi pengembang dengan membangun banyak proyek hotel bujet. “Dari sekira 4.000 kamar hotel baru yang akan masuk ke pasar hingga 2015 mendatang, sebanyak 48% di antaranya [1.920 kamar] adalah hotel bujet,” ujarnya di Jakarta akhir pekan lalu.

Dia mengatakan selama tahun ini ada delapan hotel hotel bintang [3-5] yang selesai diabngun dan dioperasikan. Dari 2.022 kamar hotel yang selesai, 26% adalah hotel bintang 3, kemudian 45% hotel bintang 4 dan sebanyak 29% hotel bintang 5. “Pasok kamar hotel baru itu membuat jumlah kamar hotel berbintang 3 sampai 5 di Jakarta sampai akhir Desember 2012 mencapai 26.113 kamar,” kata Arief.

Arief menggaris bawah bahwa sebagian besar hotel di Jakarta merupakan hotel bisnis yang melayani pelancong bisnis ke Jakarta dan area Jabodetabek (Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi). Permintaan kamar hotel di Jakarta, lanjut dia, akan terus tumbuh dan akan mampu mengangkat okupansi hotel di Jakarta. “Hingga 2013 mendatang okupansi hotel di Jakarta rata-rata akan mencapai 70%,” tuturnya.

Angka okupansi itu tidak jauh dari estimasi okupansi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), dimana tahun ini diharapkan akan menyentuh angka 65% dan meningkat menjadi 70% tahun depan. Optimisme Cushman & Wakefield terhadap pertumbuhan okupansi itu didasarkan pada catatan kedatangan penumpang melalui Bandara Soekarno-Hatta yang memiliki pertumbuhan di atas 15% per tahun di 3 tahun terakhir ini. “Selain itu membaiknya aksessibilitas dengan renovasi terminal bandara dan aktifnya arus penumpang domestik juga menjadi faktor yang mendorong membaiknya okupansi perhotelan di Jakarta,” ungkapnya.

Data Airports Council International pada Juli 2012, Bandara Internasional Soekarno-Hatta tercatat sebagai bandara ke-10 tersibuk di dunia dari jumlah arus penumpang kedatangan dan keberangkatan. Pada Oktober 2012, total kedatangan penumpang melalui Bandara Soekarno-Hatta mencapai 23.298.446 penumpang atau 12,3% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Mayoritas penumpang atau sebanyak 79,4% adalah penumpang domestik. Sedangkan sisanya adalah wisatawan asing. “Jakarta merupakan destinasi bisnis dan kota pemerintahan dan menjadi transit ke berbagai tujuan wisata di Indonesia,” tambah Arief. (GUN)