Rabu, 01/06/2011

Harga Rumah di AS Terus Turun, Fannie Mae Ajukan Dana Talangan

-jktproperty.com
Share on: 467 Views
Harga Rumah di AS Terus Turun, Fannie Mae Ajukan Dana Talangan

JAKARTA: Fannie Mae, perusahaan pembiayaan perumahan terbesar di AS, kembali meminta dana talangan dari pemerintah AS sebesar US$8,5 miliar. Dana ini untuk menutup defisit asset bersihnya sebesar US$8,4 miliar hingga Maret 2011 lalu. Perusahaan pembiayaan perumahan terbesar AS ini dikabarkan masih merugi hingga akhir kuartal satu 2011 lalu.

Fannie Mae mencatat rugi bersih hingga US$8,7 miliar Maret 2011. Kerugian ini jauh berkurang dibandingkan kerugian perusahaan di kuartal I-2010, sebesar US$13,06 miliar. Akibat kerugian tersebut Fannie Mae awal Mei lalu mengajukan permintaan dana talangan ini. Bila proposal dana talangan disetujui maka total dana talangan yang dikeluarkan pemerintah AS untuk perusahaan bernama panjang Federal National Mortgage Association sejak 2008 lalu mencapai US$99,7 miliar.

Atas pinjaman dana talangan yang sudah diberikan, Fannie Mae sudah membayar bunga hingga US$12,4 miliar ke Departemen Keuangan AS. Manajemen Fannie Mae mengatakan, harga rumah turun rata-rata 1,8% di seluruh AS sepanjang Januari hingga Maret 2011. “Kami memperkirakan kerugian dari kredit akan tetap tinggi di 2011 karena kami masih terpapar efek negatif penurunan harga rumah yang masih berlangsung,” kata Michael Williams, Presiden Direktur dan CEO Fannie Mae dalam pernyataannya seperti dikutip Bloomberg.

Hingga kuartal I-2011, Fannie Mae telah membeli kredit rumah baru dengan nilai sekitar US$189 miliar. Sementara itu, Freddie Mac yang merupakan sibling firm Fannie Mae, sepanjang kuartal I-2011 lalu diberiitakan meraih laba bersih US$676 juta. Pada periode sama 2010, Freddie rugi bersih US$ 6,7 miliar. Perusahaan yang berpusat di Virginia ini akan membayar dividen US$1,6 miliar ke AS.

Dalam laporan keuangan kuartal I-2011, perusahaan yang bernama panjang Federal Home Loan Mortgage Corporation ini sudah memiliki kekayaan bersih US$1,2 miliar sehingga tak memerlukan pendanaan tambahan. Kuartal I-2011 lalu merupakan kali pertama Freddie Mac mencatat untung sejak kuartal II-2009. Secara total, Fannie Mae dan Freddie Mac mendapatkan dana talangan US$153 miliar dari AS.

Hingga akhir kuartal satu lalu Freddie telah membayar kembali US$11,6 miliar dari total US$64,7 miliar dana talangan. Kedua perusahaan ini hampir rontok karena anjloknya kredit perumahan yang mereka beli periode 2005-2008. “Kedua perusahaan ini masih memiliki backlog kredit macet yang besar, sisi positifnya adalah aliran kredit yang buruk sudah berhenti,” kata Jim Vogel, Kepala Riset Surat Utang FTN Financial.

Sewaktu Fanni Mae dan Freddie Mac terkena dampak subrpime mortgage crisis pada 2008 lalu, goncangannya memang bisa merembet ke segala penjuru dunia, termasuk negara-negara Asia. Namun ketika akhirnya pemerintah AS menyatakan siap mengucurkan dana talangan bagi keduanya, kepercayaan investor terhadap pasar kredit dan saham di seluruh dunia kembali meningkat.

Fannie dan Freddie memiliki atau menjamin utang senilai US$ 5 triliun, atau separuh dari nilai pembiayaan perumahan AS. Bank-bank asing, terutama dari Asia menguasai US$ 979 miliar surat berharga dan surat berharga berbasis hipotek. Langkah Departemen Keuangan AS untuk menggiring Fannie Mae dan Freddie Mac ke program pemulihan telah menyirnakan awan kelam yang sempat menggantung di prospek bursa kredit global.

Lonjakan harga saham di Asia Senin ini menyingkirkan keprihatinan investor terhadap kelesuan ekonomi AS dan dampaknya ke ekonomi global yang sempat mengakibatkan penurunan tajam sejumlah harga saham di bursa saham Asia. Selain menghantam kinerja bursa, subprime mortgage crisis yang berlangsung di AS juga mengimbas pada sector property di Indonesia.

Sewaktu krisis terjadi, perbankan sempat menaikan uang muka pembelian rumah dari 20%-30% menjadi 50%. Banyak pengembamg menghentikan dan menunda rencana pembangunan proyeknya mengingat tingginya harga bahan bangunan saat itu. Selain itu, perbankan juga menjadi lebih hati-hati dan ekstra ketat dalam memberikan kredit konstruksi proyek-proyek properti. (LEO)