Rabu, 25/04/2012

End User Dominasi Pembelian Rumah di Jabodetabek

-jktproperty.com
Share on: 547 Views
End User Dominasi Pembelian Rumah di Jabodetabek

JAKARTA: Perusahaan konsultan properti Cushman & Wakefield mengungkapkan mayoritas pembeli rumah di Jabodetabek adalah end user atau pengguna akhir. Hal ini dipicu karena faktor kebutuhan rumah tinggal akibat pertambahan penduduk yang pesat, terutama di wilayah penyangga Jakarta yang lahannya sangat terbatas.

Head of Research & Advisory at PT Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan permintaan properti landed house di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi selama tahun ini hingga beberapa tahun ke depan tetap akan tinggi.

“Tingginya minat beli pada pasar perumahan saat ini masih didominasi end-user dan bukan oleh spekulan. Porsi spekulan boleh dikatakan kecil. Permintaan yang tinggi akan terus berlangsung hingga tahun depan,” ujarnya di Jakarta belum lama ini.

Dari riset Cushman & Wakefield Indonesia diketahui bahwa 77% pembeli rumah di Jakarta adalah end-user dan 23% sisanya investor atau spekulan. Di Bekasi, 75% pembeli rumah dikategorikan end-user, sementara sisanya yang 25% investor atau spekulan rumah. Sementara di Tangerang, Depok dan Bogor pembeli end-user justru lebih tinggi yakni masing-masing 79% dan 78%, sementara spekulan hanya menempati porsi 21% dan 22%.

Namun dengan tingginya demand perumahan sebagai akibat pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk akan membuat wilayah Jabodetabek kehabisan lahan perumahan. Bahkan untuk jangka waktu 20 tahun ke depan Bekasi diprediksi bakal kehabisan lahan untuk permukiman, mengingat jumlah penduduk kota ini yang akan meningkat dua kali lipat.

Berdasarkan sensus penduduk 2010, jumlah penduduk di Kota Bekasi mencapai 2.332.363 jiwa. Dengan luas wilayah 210,49 km2 maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kota Bekasi sebesar 11.100 jiwa per km2. Data BPS Bekasi mengungkapkan laju pertumbuhan penduduk Kota Bekasi mencapai 3,48% yang berarti setiap bulan ada penambahan penduduk 5.571 jiwa.

Sementara di Tangerang dengan penduduk mencapai sekitar 2 juta jiwa akan terus bertambah akibat migrasi warga dari wilayah lain. Depok dan Bogor juga mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Untuk mengantisipasi kurangnya lahan, banyak pengembang sudah menawarkan konsep hunian vertikal di wilayah-wilayah penyangga kota Jakarta.

Seperti halnya PT Summarecon Agung Tbk yang membangun township Summarecon Bekasi di atas seluas 240 hektar. Selain 780 rumah di 20 hektar tahap pertama yang dikembangkan sejak 2010 lalu, dalam waktu dekat Summarecon akan kembali membangun 3.200 unit rumah di 12 kluster. Selain itu pusat perbelanjaan modern, perkantoran dan hotel juga akan dibangun di megaproyek ini. Sementara untuk mengantisipasi keterbatasan lahandi kawasan Bekasi, Summarecon telah merencanakan membangun sedikitnya 6.000 unit apartemen di Summarecon Bekasi. (SIN)