Rabu, 17/10/2012

Dibayangi Kelesuan di Kawasan Asia Pasifik, Kinerja Pasar Properti Jakarta Tumbuh Positif

-jktproperty.com
Share on: Facebook 522 Views
Dibayangi Kelesuan di Kawasan Asia Pasifik, Kinerja Pasar Properti Jakarta Tumbuh Positif

JAKARTA: Kinerja pasar properti Jakarta hingga memasuki triwulan III-2012 terus menunjukkan tren positif meskipun dibayang-bayangi kelesuan pasar yang terjadi di kawasan Asia Pasifik. Kinerja positif itu tercermin dengan adanya kenaikan signifikan dari sisi supply dan demand properti.

Menurut Todd Lauchlan, Country Head Jones Lang LaSalle Indonesia, dalam acara Media Briefing hari ini, pertumbuhan positif pasar properti di Jakarta terjadi di semua subsektor properti. Di sektor perkantoran komersial, tingkat hunian rata-rata kembali meningkat akibat permintaan yang terus mengalir dari perusahaan-perusahaan yang mengembangkan bisnisnya maupun juga yang baru membuka usahanya di Indonesia.

Di kawasan segitiga emas (CBD), penyerapan ruang kantor selama triwulan III-2012 naik sebesar 6,5% sehingga total penyerapan sejak bulan Januari sampai dengan September mencapai sekitar 250.000 m2. “Tingkat hunian perkantoran di kawasan ini meningkat menjadi 91,2%,” katanya.

Tingginya demand, lanjut Todd, mendorong pemilik gedung menaikan tarif sewa mereka yang dalam triwulan ini tercatat rata-rata meningkat sebesar 7,8%. Secara keseluruhan, tarif sewa kantor di CBD sejak awal tahun ini telah meningkat sebesar 25.3% dimana kenaikan terbesar di dorong oleh gedung-gedung berkualitas premium (Grade A).

Sementara Angela Wibawa, Project Leasing di Jones Lang LaSalle mengatakan, penyerapan pasar yang positif di subsektor perkantoran juga terjadi di kawasan luar CBD, dimana penyerapan pasar meningkat sekitar 23% dalam triwulan ini sehingga mendongkrak tingkat hunian menjadi sekitar 86,9%.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa tarif sewa kantor di luar CBD juga meningkat, dimana sejak awal tahun ini kenaikannya berkisar antara 3-7%. Dalam periode yang sama, koridor TB Simatupang mencatatkan kenaikan tarif sewa paling tinggi, yang hampir sama dengan kenaikan di daerah CBD yaitu sebesar 23%.

“Saat ini, tarif sewa rata-rata gedung perkantoran komersial di koridor TB Simatupang kurang-lebih sama dengan tarif sewa gedung kantor berkualitas yang ada di daerah CBD,” demikian Angela.

Penjualan Kondominium Fantastis

Di subsektor kondominium, Luke Rowe, Residential Project Marketing Group Head Jones Lang LaSalle Indonesia melihat relatif rendahnya tingkat suku bunga mampu mendorong penjualan kondominium di jakarta.

“Penjualan kondominium di pasar primer meningkat fantastis. Tercatat sebanyak 3.915 unit terjual dalam periode ini, atau meningkat 66% dibanding triwulan sebelumnya,” kata Luke.

Dengan angka itu, lanjut dia, penjualan kondominium selama 9 bulan pertama tahun ini sudah hampir menyamai penjualan sepanjang tahun lalu yang mencapai sekitar 8.600 unit. Agresifitas pengembang juga terlihat dari makin maraknya peluncuran proyek baru belakangan ini.

Dalam triwulan III ini saja, lebih dari 10 proyek baru diluncurkan di Jakarta, dimana total unitnya mencapai lebih dari 4.000 unit. Secara kesuluruhan, saat ini ada sekitar 30.700 unit kondominium yg tengah dibangun, dimana sebanyak 67%-nya telah terjual.

Pada kesempatan yang sama, Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle Indonesia yang menyoroti subsektro ritel mengatakan terjadi peningkatan permintaan secara signifikan yang didorong aksi ekspansi peritel lokal maupun asing.

“Triwulan III-2012 mereka seakan berlomba-lomba membuka tokonya di pusat-pusat perbelanjaan baru di Jakarta,” tutur Anton.

Data Jones Lang LaSalle Indonesia mengungkapkan penyerapan ruang ritel sewa naik 85% mencapai sekitar 88.770 m2 dan mendorong tingkat hunian menjadi 89.5% di akhir September 2012. Kenaikan tingkat hunian dan jumlah pengunjung ke mal-nya membuat beberapa pengelola mulai mengambil ancang-ancang untuk menyesuaikan tarif sewa mereka. Akan tetapi, sampai triwulan III ini pertumbuhan tarif sewa mal di Jakarta masih terbatas, rata-rata masih dibawah 6%, kata Anton.

Lantas apakah kinerja positif pasar properti Jakarta ini akan terus berlanjut? Menurut Lucy Rumantir, Chairman Jones Lang LaSalle Indonesia, tren ini akan terus berlanjut. Proyeksi pertumbuhan pasok dan permintaan dalam dua tahun ke depan yang didukung oleh fundamental ekonomi dan demografi lokal yang cukup solid menunjukkan bahwa tren kenaikan tingkat hunian atau tingkat penjualan akan mendorong pertumbuhan harga jual maupun tarif sewa seperti yang terjadi belakangan ini.

Akan Terus Berlanjut

Hal itu pulalah, demikian Lucy, yang mendorong investor mancanegara mulai meningkatkan aktivitas bisnisnya di Indonesia, khususnya Jakarta. “Ketika pasar domestik mereka dan juga sebagian pasar di kawasan Asia Pasifik mengalami perlambatan atau kelesuan, pasar properti di Indonesia menawarkan alternatif investasi yang menarik, karena memberikan tingkat pertumbuhan yang cukup baik dan yang terpenting, pertumbuhan tersebut berkelanjutan,” tandas Lucy.

Dia menambahkan tanda-tanda perlambatan pasar yang dikuatirkan mungkin terjadi akibat lesunya pertumbuhan ekonomi dan aktivitas bisnis di kawasan Asia Pasifik, sama sekali tidak terlihat sampai dengan bulan September lalu.

Sebaliknya, dia justru melihat animo pasar yang cukup tinggi, para pengembang lokal terlihat makin agresif dalam meluncurkan proyek-proyek baru mereka di periode ini. “Didukung oleh kondisi ekonomi yang cukup stabil dan permintaan domestik yang tinggi, tren pertumbuhan pasar properti di Jakarta seperti sekarang ini masih akan sangat besar kemungkinannya berlanjut dalam dua tahun ke depan,” katanya. (WED)