Senin, 03/12/2007

Deregulasi Properti dan Imajinasi Kreatif Pemerintah Dubai

-jktproperty.com
Share on: 570 Views
Deregulasi Properti dan Imajinasi Kreatif Pemerintah Dubai

DUBAI: Dubai adalah sebuah keajaiban. Impossible is nothing—boleh jadi inilah kata yang tepat untuk menggambarkan pesatnya pembangunan properti di negeri petrodolar ini. Berbagai hal yang semula dianggap tidak mungkin menjadi nyata. Lihat misalnya pembangunan 200 apartemen pencakar langit (apartment skyscraper) yang masing-masing berlantai 30 dan akan berputar 360 derajat dalam seminggu. Inilah rotating skyscraper pertama di dunia yang akan berdiri di pusat komplek Dubailand dan akan selesai pada 2009.

Beberapa megaproyek lain yang melebihi batas imajinasi rata-rata pebisnis properti dunia ada di sini. Di lepas Pantai ada Palm Islands dan The World. Di daratan ada Dubai Marina, The Burj Dubai Complex, Dubai Waterfront, Business Bay, Dubailand dan Jumeirah Palm—pulau buatan yang luasnya 120 km2 (74.5 mil) akan dibangun menyerupai pohon palem, memanjang tiga mil dari selatan Dubai dan melintasi jembatan sepanjang 990 kaki.

Dengan 17 ’daun’ raksasa, pulau ini nantinya bisa dilihat dari bulan. Tidak percaya? Anda bisa membuktikannya dengan pergi ke bulan terlebih dahulu. Palm Islands di lepas pantai terdiri dari 2.000 villa, 40 hotel mewah, pusat perbelanjaan, bioskop, dan taman laut yang merupakan pertama di Timur Tengah.

Aspirasi lainnya diwujudkan oleh arsitektur kota yang modern seperti rumah bagi pencakar langit Emirates Towers yang menjadi bangunan tertinggi ke-12 dan 24 di dunia serta hotel Burj al Arab yang terletak di pulau pribadi di Teluk Persia merupakan hotel tertinggi dan termahal di dunia. Emaar Properties, salah satu pengembang ternama di Dubai, kini juga sedang membangun apa bangunan tertinggi di dunia, Burj Dubai.

Tinggi total pencakar langit ini sangat dirahasiakan—sebuah indikasi pembangun untuk menetapkan gelar sebagai bangunan tertinggi di dunia dan keinginannya untuk memegangnya selama-lamanya—tetapi perhitungan untuk tinggi totalnya adalah 810m. Pebangunan Burj Dubai diperkirakan selesai pada 2008. Ada lagi proyek baru yang di-launch Mei tahun lalu.

Namanya Bawadi dan akan mencakup investasi senilai US$27 miliar. Proyek ini akan menjadikan jumlah kamar hotel di Dubai meningkat menjadi 29.000 kamar. Komplek terbesar diberi nama Asia-Asia dan akan menjadi hotel terbesar di dunia dengan lebih dari 6.500 kamar.

Deregulasi Kepemilikan Properti

Apa penyebab pertumbuhan bisnis properti Dubai sefantastis itu? Salah satu keputusan krusial yang dibuat pemerintah adalah ketika Wakil Presiden Uni Emirat Arab yang sekaligus penguasa Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, bulan Maret 2006 melalukan deregulasi dengan mengesahkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang kepemilikan properti di Provinsi Dubai.

Undang-undang baru tersebut memberikan peluang seluas-luasnya kepada para investor asing maupun setempat di sektor properti untuk masuk pasar properti di negeri berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa dan diperkirakan meningkat menjadi 2,2 juta jiwa pada tahun 2010. UU baru tentang properti itu menegaskan, hak kepemilikan properti di Provinsi Dubai hanya terbatas pada penduduk setempat dan negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwat, Bahrain, Qatar, dan Kesultanan Oman, serta perusahaan yang dimiliki mereka.

Tapi bukan berarti mereka membatasi kepemilikan properti oleh asing. Warga asing diberi hak memiliki properti secara penuh di Dubai tanpa dibatasi masa tertentu, tetapi dengan syarat setelah mendapat persetujuan Pemerintah Dubai dan di wilayah tertentu yang telah ditentukan pemerintah. Para pebisnis properti menyebut UU baru tersebut sebagai penggerak dan pendukung perekonomian Dubai. Mereka mengatakan, UU baru itu bukti pemerintah Dubai berpihak kepada para investor lokal maupun mancanegara. UU tersebut telah mendorong investor menanamkan investasinya.

Itulah deregulasi yang tepat guna dan tepat sasaran. Kecuali itu keputusan pemerintah untuk segera melakukan transformasi ekonomi dari ekonomi berbasis minyak yang diperkirakan cadangannya akan habis pada 2010 ke services, properti dan pariwisata sangat mendukung pertumbuhan itu. Dubai hanya memiliki 8,5% dari cadangan minyak Uni Emirat Arab.

Keterbatasan ini sangat kondusif pula bagi lahirnya imajinasi kreatif pemerintah Dubai. Direktur Eksekutif Bank Dubai Saad Abdel Razek mengatakan, UU baru itu berandil besar memperkuat kepercayaan para penduduk atau investor asing untuk memiliki properti di Dubai.

Magnet Investor

Dubai punya magnet bagi investor karena beberapa faktor. Di antaranya tidak ada pajak penghasilan, tidak ada pajak nilai tambah, tidak ada pajak properti atau waris atau keuntungan perusahaan. Alasan lainnya adalah lahirnya peraturan pada 2002 yang mengizinkan non-kebangsaan UEA untuk memiliki properti (bukan tanah) di Dubai (penyewaan 99 tahun dijual kepada orang dengan kepemilikannya masih berlaku dengan perusahaan pribadi).

Berbagai kemudahan inilah yang membuat Dubai menjadi surga para investor. Kini eranya keterbukaan. Dengan dibukanya kran investasi properti ternyata dana pun mengalir deras ke negara bersangkutan. Bagaimana dengan negara lain di kawasan Asia Pasifik? Inilah yang menarik kita cermati. Disadari atau tidak, masuknya investor asing khususnya di sektor properti, punya dampak besar bagi ekonomi negara karena sifatnya investasi langsung (foreign direct investment – FDI).

Jenis investasi ini tidak akan mudah berpindah-pindah karena dibutuhkan waktu pengembalian (yield) yang memadai. Alhasil, investor akan berlomba-lomba menanamkan modalnya. Di Singapura dan Malaysia adalah dua negara Asia yang sudah berhasil mengundang investor asing masuk ke negaranya. Di sini tak ada kaitan dengan nasionalisme.

Yang ada justru pertumbuhan ekonomi lebih terpacu karena ada peningkatan kegiatan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan sebagainya. Jelas yang diuntungkan adalah negara itu sendiri. Indonesia, inilah negeri yang sejatinya punya peluang yang sangat besar untuk mengubah dirinya seperti halnya Dubai. Semua potensi dimiliki oleh negeri ini. Wilayah sudah pasti tak terkalahkan oleh negara mana pun di kawasan Asia Pasifik.

Indonesia juga punya potensi yang tak kalah besar dibandingkan Dubai sekalipun. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melakukan deregulasi untuk kepemilikan properti di Indonesia. Untuk pemilikan tanah, mungkin bisa dibatasi. Namun untuk properti lain dapat dipastikan tak ada risiko yang perlu dirisaukan sehingga akan menggerus keutuhan negara. Mari buka mata, hati dan wawasan kita, sehingga mampu melihat persoalan dari berbagai sisi yang pada akhirnya akan menguntungkan ekonomi bangsa secara keseluruhan. Bukan hal mustahil akan muncul ‘Dubai World’ baru di berbagai negara Asia-Pasifik, termasuk Indonesia. (Safaruddin Husada)