Senin, 18/02/2013

Demand Ruang Kantor Sewa Tinggi, Stok Terbatas

-jktproperty.com
Share on: 550 Views
Demand Ruang Kantor Sewa Tinggi, Stok Terbatas

JAKARTA, jktproperty.com – Permintaan (demand) ruang perkantoran sewa di Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) selama triwulan IV-2013 melampaui supply yang ada. Sementara seacara keseluruhan, menurut survei yang dipublikasikan Bank Indonesia, pasar perkantoran di wilayah Jabodebek mengalami perkembangan positif.

Menurut BI, tren positif ruang perkantoran itu diindikasikan dengan peningkatan pasokan yang diikuti dengan kenaikan okupansi, penjualan serta tarif sewa dan harga jual. Peningkatan signifikan secara tahunan terjadi pada tarif sewa dan harga jual yang masing-masing meningkat 12,69% dan 42,52% atau menjadi R183.267/m2/bulan dan Rp24,02 juta/m2 selama kuartal IV-2013. Lebih lanjut survei BI mengungkapkan secara rata-rata excess demand terhadap ruang perkantoran secara tahunan selama 2010-2012 adalah sebesar 212.914 m2.

Namun kondisi berbeda terjadi pada perkantoran jual, dimana harga jual yang relatif mahal mempengaruhi tingkat penjualan, sementara peningkatan supply pun relatif lambat. Secara rata-rata, luas lahan perkantoran jual yang belum terjual (excess supply) secara tahunan pada periode yang sama sebesar 3.235 m2.

Pada triwulan IV-2012 juga terus terjadi ekspansi perkantoran sewa yang terlihat dari meningkatnya jumlah pasokan sekitar 259.646 m2 (4,02% qtq dan 7,54% yoy). Meningkatnya pasokan ini mendorong supply perkantoran sewa mencapai 6,7 juta m2, dimana sebagian besar (62,74%) dari pasokan tersebut berasal dari kawasan central business district (CBD).

Pada 2013, demikian BI, jumlah pasokan diharapkan mampu meningkat sebesar 800.226 m2 yang berasal dari 21 proyek perkantoran baru. Sebagian besar tambahan pasokan tersebut, yakni 16 proyek atau 70,7% dari rencana pasokan, berasal dari pembangunan di wilayah non-CBD, terutama di wilayah TB Simatupang. Sementara di kawasan non-CBD, harga tanah yang relatif masih lebih murah, akses tol yang mudah, serta lebih terbebas dari macet dan banjir menjadi alasan pertumbuhan perkantoran di wilayah non-CBD.

Pesatnya Permintaan

Meskipun pasok terus diguyur ke pasar, permintaan ruang perkantoran masih tetap tinggi sehingga okupansi meningkat dari 98,01% pada triwulan III-2012 menjadi 98,45% di triwulan IV-2012. Besarnya transaksi penyewaan di kawasan non-CBD disebut-sebut menjadi faktor yang dominan mempengaruhi kenaikan tingkat hunian.

Pesatnya permintaan tentu berdampak terhadap tarif sewa yang mengalami peningkatan 1,76% (qtq) atau 12,69% (yoy) menjadi Rp183.267/m2/bulan. Berdasarkan wilayahnya, sepanjang tahun 2012 tarif sewa ruang perkantoran di kawasan CBD meningkat 14,93% (yoy) menjadi Rp208.060/m2/bulan, sedangkan di non-CBD meningkat 7,77% menjadi Rp141.523/m2/bulan. (GUN)