Selasa, 17/04/2012

Daya Beli Masyarakat Kuat Picu Ekspansi Pengembang ke Balikpapan

-jktproperty.com
Share on: 827 Views
Daya Beli Masyarakat Kuat Picu Ekspansi Pengembang ke Balikpapan

JAKARTA: Akuisisi PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) terhadap 65% saham PT Pandega Citraniaga sebagai perusahaan holding Mal Plaza Balikpapan senilai Rp210 miliar belum lama ini, semakin mengukuhkan Balikpapan yang berjuluk ‘Kota Minyak’ atau ‘Bumi Patra’, sebagai kota di timur Indonesia yang memiliki pasar properti dengan potensi besar untuk dikembangkan.

Kalimantan Timur ini merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menyimpan potensi pertambangan mineral dan batubara terbesar. Sementara Balikpapan, dari data mengenai potensi ekonomi kekayaan laut di kawasan Teluk Balikpapan yang pernah dipublikasikan Tim Bappenas dan Proyek Pesisir Kalimantan Timur pada awal 2000-an, diperkirakan mencapai US$5,56 juta per tahun. Artinya dari sisi kekayaan alam, Balikpapan sudah tak perlu diragukan lagi.

Bagaimana dengan tingkat ekonomi masyarakat Balikpapan? Menurut survei BPS setempat, kebutuhan hidup layak (KHL) di Kota Balikpapan cukup tinggi, yakni mencapai Rp4,5 juta per bulan, dengan rata-rata per kapita hanya mencapai Rp1,2 juta per rumah tangga per bulan. Biaya hidup tersebut, dapat dikategorikan bahwa Balikpapan tidak hanya mencatat angka tertinggi untuk biaya hidup di Kaltim, tetapi juga sebagai kota termahal di Indonesia.

Mercer Indonesia (perusahaan konsultan SDM dan jasa keuangan yang berpusat di New York, AS) bahkan pada 2008 pernah pula mengungkapkan hal serupa, dimana mereka menobatkan Balikpapan sebagai kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia, bahkan mengalahkan biaya hidup di Jakarta.

Potensi ekonomi Balikpapan itulah yang banyak dilirik pengembang asal Jakarta. bahkan boleh dibilang Balikpapan menjadi kota tujuan utama ekspansi para pengembang Jakarta. PAM Group telah membangun Balikpapan Superblock, PT Cowell Development Tbk membangun landed residential mewah Borneo Paradiso, PT Supermal Karawaci juga akan masuk dengan proyek superbloknya dan terakhir APLN yang mengakuisisi Mal Plaza Balikpapan untuk kemudian dikembangkan menjadi superblok.

Bahkan di proyek superblok ini APLN akan mereklamasi pantai seluas 5 hektar sehingga nantinya akan menjadi proyek komersial tepi pantai terbesar di Kaltim. Di kawasan yang direklamasi ini APLN akan membangun lifestyle mall, hotel, apartemen serta gedung perkantoran.

Reklamasi Pantai

Kota Balikpapan terletak di antara hutan, bukit dan lautan. Kondisi geografis ini mencerminkan potensi kota yang didominasi oleh kawasan pantai pesisir. Dengan terus meningkatnya jumlah penduduk (saat ini penduduk Balikpapan berjumlah sekitar 630.000 jiwa), adalah satu kebutuhan bila pengembangan kawasan kota di masa mendatang mengarah pada reklamasi pantai dengan merealisasikan Balikpapan Innercity Waterfront Area. Hal ini untuk menyeimbangkan demand akibat pertumbuhan penduduk dengan terbatasnya lahan perkotaan.

PT Pandega Citraniaga yang membangun dan mengoperasikan mal Plaza Balikpapan merupakan perusahaan pengembang yang didirikan Rini M.S. Soewandi, Menperindag di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri. Nantinya superblok yang akan dibangun APLN ini menjadi satu kesatuan dengan megaproyek Coastal Road di sepanjang pesisir Balikpapan yang dikerjakan 14 investor dan direncanakan rampung pada 2017.

Proyek itu dirancang dengan izin reklamasi seluas 411,89 hektar. Kegiatan reklamasi itu sudah disetujui oleh Presiden melalui Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN), dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Balikpapan 2011-2031. Sebelumnya, Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan ke-14 investor itu akan melanjutkan proyek ambisius yang terkatung-katung karena di tinggalkan oleh investor dari Malaysia, Singapura, China, Australia dan Kanada.

Momentum yang Tepat

Bisa dibilang langkah ekspansi APLN dan sejumlah pengembang lainnya ke Balikpapan adalah langkah yang tepat. Mereka masuk di saat yang pas bersamaan dengan diteruskannya proyek Balikpapan Innercity Waterfront Area sebagai jawaban atas terbatasnya lahan di kota Balikpapan. Bisa dipastikan pengembangan properti di Balikpapan dalam 3-5 tahun ke depan memang akan terkonsentrasi di sepanjang daratan hasil reklamasi pantai ini, dimana hunian vertikal yang menawarkan pemandangan pantai bakal menjadi tren.

Dari sisi harga properti, Balikpapan juga mencatat pertumbuhan yang cukup baik. Memang, seperti diakui pengembang di daerah ini, kenaikan harga properti di Balikpapan rata-rata per tahun bisa mencapai 20%. Kenaikan itu bukan lantaran dorongan pasar, melainkan lebih karena kota ini masih sangat bergantung pada daerah lainnya dalam hal bahan bangunan, sehingga harga properti terus meroket. Bahan bangunan yang tersedia di Balikpapan saat ini hanyalah batu bata. Batu gunung harus didatangkan dari palu dan pasir harus ‘diimpor’ dari Samboja Kutaikertanegara.

Namun terlepas dari kekurangtersediaan bahan bangunan yang dianggap sebagai penyebab terdongkraknya harga properti, daya beli masyarakat Balikpapan yang sangat kuat tetap akan menjadikan pasar properti di ‘kota minyak’ ini tetap moncer di masa mendatang. (JR)