Selasa, 22/07/2014

Dana Pihak Ketiga BTN Tumbuh di Atas Rata-Rata Industri

-jktproperty.com
Share on: 566 Views
Dana Pihak Ketiga BTN Tumbuh di Atas Rata-Rata Industri
Foto: jurnas.com
KINERJA BTN: Berdasarkan kinerja semester I-2014 kredit dan pembiayaan yang disalurkan Bank BTN mencapai Rp106.584 triliun. Kredit ini mengalami pertumbuhan 16,61% dibandingkan periode yang sama 2013, yakni sebesar Rp91,403 triliun. Komposisi kredit tersalur masih 88,07% pada housing loan atau sekitar Rp93,870 triliun. Sementara sisanya 11,93% disalurkan pada non-housing loan yang mencapai Rp12,714 triiliun.

JAKARTA, jktproperty.com – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan pencapaian dana pihak ketiga  perseroan pada semester I-2014 tumbuh cukup signifikan di atas rata-rata industri dalam negeri. Pertumbuhannya mencapai 22,61% dibandingkan periode yang sama 2013.

Dirut Bank BTN Maryono mengatakan selama semester I-2014 dana pihak ketiga Bank BTN mencapai Rp101,345 triliun atau meningkat perolehannya dibanding posisi yang sama 2013 sebesar Rp82,656 triliun. Sementara pertumbuhan rata-rata industri dalam negeri sekitar 12,36%. “Pertumbuhan dana pihak ketiga Bank BTN mencapai 22,61% atau melampaui rata-rata pertumbuhan industri di dalam negeri,” ujarnya pada acara buka puasa bersama media di Jakarta tadi malam.

Menurut dia, industri perbankan selama 2014 ini mengalami sejumlah tekanan. Tekanan terbesar datang dari kenaikan biaya dana yang merupakan imbas dari ketatnya likuiditas dan naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Disamping itu kondisi perekonomian nasional juga mengalami perlambatan.

“Dalam kondisi seperti ini bank cenderung berhati-hati terutama dalam menyalurkan kredit agar tidak terjebak pada kredit macet,” kata Maryono.

Berdasarkan kinerja semester I-2014 kredit dan pembiayaan yang disalurkan Bank BTN mencapai Rp106.584 triliun. Kredit ini mengalami pertumbuhan 16,61% dibandingkan periode yang sama 2013, yakni sebesar Rp91,403 triliun. Komposisi kredit tersalur masih 88,07% pada housing loan atau sekitar Rp93,870 triliun. Sementara sisanya 11,93% disalurkan pada non-housing loan yang mencapai Rp12,714 triiliun.

“Dengan komposisi tersebut, maka kinerja perseroan semester I-2014 masih menunjukkan konsistensi Bank BTN pada core business dalam pembiayaan industri perumahan,” tutur Maryono.

Meskipun mencatat pertumbuhan simpanan dan pinjaman yang signifikan, laba Bank BTN justru mengalami penurunan. Laba BTN semester I/2014 turun 19,98% atau sebesar Rp539 miliar. Mengenai hal itu, Maryono mengatakan tingginya biaya dana menjadi alasan utama laba BTN terkoreksi selama semester I-2014.

“Faktor likuiditas yang ketat menyebabkan biaya dana meningkat, sementara perseroan tidak banyak menaikan bunga kredit. Konsekuensinya tidak proporsional dengan biaya dana, net interest margin kami turun,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan meskipun dalam kondisi likuiditas yang cukup ketat, perseroan masih dapatkan meningkatkan interest income sebesar Rp6,467 triliun naik dari posisi yang sama tahun 2013 sebesar Rp5,188 triliun. Interest expense tercatat sebesar Rp3,791 triliun. Sementara other operating income sebesar Rp390 miliar dan other operating expense sebesar Rp2,324 triliun. Laba bersih Bank BTN tercatat sebesar Rp539 miliar.

Hingga akhir Juni lalu, komposisi current account saving account (CASA) atau dana murah mencapai 44,51% dari total DPK BTN. Dana di giro naik 19,86% dibanding Juni tahun lalu yang sebesar Rp16,37 triliun. Sedangkan tabungan tumbuh 16,58%. CASA BTN baru mencapai 44,51% dari total DPK BTN. Dana giro tumbuh 19,86% secara YoY dibanding perolehan giro di bulan Juni 2013 sebesar Rp16,37 triliun. Tabungan tumbuh 16,58% secara YoY dibanding perolehan tabungan di bulan Juni 2013 sebesar 21,29 triliun.

“Data terakhir menyebutkan deposito kita tumbuh 26,58% dibandingkan Juni 2013 sebesar Rp38,82 triliun,” katanya.

Rasio LDR Turun

Perseroan berhasil menurunkan rasio LDR dari 110,58% pada semester I 2013 menjadi 105,17% pada semester I-2014. Bank BTN berada dalam kondisi likuiditas yang sangat kuat. Khusus untuk rasio tentang LDR  (loan to deposit ratio)  perseroan, dijelaskan oleh Maryono  tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi likuiditas Bank BTN.

Dalam formula perhitungan LDR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, tidak memasukkan komponen sumber dana perseroan lainnya seperti obligasi, pinjaman berjangka waktu panjang dan sumber dana lainnya. Bisnis perseroan perlu didukung oleh dana jangka panjang.

Untuk melihat kondisi likuiditas perseroan, Bank BTN  menggunakan perhitungan Loan to Funding  rasionya hanya sebesar 89% yang berarti masih berada dalam rentang normal. Apalagi jika melihat secondary reserve Bank BTN per 30 Juni 2014 masih diatas Rp8 triliun, maka dapat dikatakan Bank BTN dalam kondisi likuiditas yang sangat aman, tegasnya. (DHP)