Selasa, 25/12/2012

Daerah Potensial di Indonesia untuk Dibangun Kondotel (Bagian 7)

-jktproperty.com
Share on: 642 Views
Daerah Potensial di Indonesia untuk Dibangun Kondotel (Bagian 7)

Oleh Deddy H. Pakpahan

jktproperty.com | Tidak bisa dipungkiri bahwa pengembangan kondotel ke depannya akan sejalan dengan policy pemerintah dalam pengembangan industri pariwisata nasional, mengingat pasar kondotel yang paling potensial adalah di daerah-daerah tujuan wisata. Selama ini kondotel terlihat hanya berkembang pesat di Bali. Tak perlu heran mengingat selama ini Bali memang menjadi daerah tujuan wisata nomor satu di Indonesia. Namun dalam beberapa tahun ke depan, destinasi wisata Indonesia dipastikan akan berkembang dan tidak melulu hanya Bali.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif misalnya, telah mencanangkan ada 50 destinasi pariwisata nasional yang akan dikembangkan hingga 2025. Ke-50 destinasi tersebut terbagi dalam 88 kawasan strategis pariwisata nasional dan 222 kawasan pengembangan pariwisata nasional yang dinilai potensial. Pemerintah telah menyusun Rencana Pariwisata Nasional yang di dalamnya termuat kerangka dan pendekatan yang sistemik dalam hal pengembangan pariwisata nasional termasuk pengembangan 50 destinasi tersebut.

Pemerintah daerah diharapkan mulai menyusun rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang untuk mengembangkan destinasi wisatanya yang potensial. Di Sumatera Utara misalnya, pemerintah akan mengembangkan wisata kawasan Danau Toba, kemudian di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam meliputi Nias dan Simeluen, Nusa Tenggara Barat meliputi Lombok, Moyo, dan sekitarnya, serta Nusa Tenggara Timur meliputi Komodo, Ruteng, dan Kelimutu. Ini agaknya akan menjadi pekerjaan rumah yang cukup serius bagi pemerintah daerah. Pemerintah daerah harus lebih antusias mengembangkan potensi wisata di daerahnya untuk menarik lebih banyak investor.

Saat ini tingkat kontribusi investasi pariwisata di Indonesia hanya berkisar 4,7% dari total investasi, lebih rendah dari rata-rata dunia yang mencapai 8,2%. Sementara kontribusi langsung sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) baru sebesar 5%, sedangkan kontribusi tidak langsung sebesar 9,1%.

Pengembangan pariwisata di daerah akan menciptakan efek multiplier termasuk bagi masyarakat di daerah yang bersangkutan dan juga kita akan dorong agar pariwisata tidak hanya menjadi kegiatan pilihan di daerah, tapi juga sebagai unggulan.

Berdasarkan data yang ada, sejak 2008 kinerja sektor pariwisata nasional mencatat rekor baru dalam perolehan kunjungan wisman sebanyak 6,4 juta orang dan devisa sebesar US$7,3 miliar. Kontribusi devisa pariwisata tercatat berada diurutan ketiga setelah minyak dan gas serta minyak sawit masing-masing sebesar US$27,71 miliar dan US$11,84 miliar.

Dari angka-angka itu jelas terlihat bahwa industri pariwisata nasional memang sangat menjanjikan. Bayangkan saja, pada 2009 ketika terjadi krisis global, sektor pariwisata Indonesia justru naik 0,36%, padahal di saat yang sama ekspor terkoreksi hingga 14 %. Pada 2012 pemerintah menargetkan wisman mencapai 8 juta orang atau meningkat dibandingkan 2011 sebanyak 7,7 juta orang.

Pemerintah akan melirik negara-negara dengan pertumbuhan double digit seperti Australia, China, Rusia, Filipina, dan Timur Tengah. Namun di tengah prospek yang menjanjikan, daya saing pariwisata Indonesia berdasarkan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) masih cukup rendah dengan peringkat 74 dari 133 negara dan berada di bawah negara Thailand. Penyebabnya, tak lain karena infrastruktur pariwisata Indonesia belum memadai dan kesinambungan sektor pariwisata belum terjaga. Ini memang menjadi pekerjaan rumah kita bersama.

Pengembangan Kondotel

Pengembangan kondotel ke depan pun tidak bisa dilepaskan dari rencana pengembangan industri pariwisata yang dicanangkan pemerintah pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah. Ambil contoh misalnya di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Dari puluhan hotel yang ada di kawasan ini, di Parapat dan Pulau Samosir, berdasarkan data 2010, hanya ada satu hotel bintang empat (Niagara Hotel) dan satu hotel bintang tiga (Inna Parapat Hotel) yang beroperasi, sisanya adalah hotel kelas melati dan penginapan berbentuk bungalow. Padahal jumlah kunjungan wisatawan asing ke kawasan wisata Danau Toba terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Artinya, dengan jumlah akomodasi hotel yang ada sekarang ini, kondotel memiliki pasar cukup bagus untuk dikembangkan di kawasan ini.

Selain kawasan ini, ke depan pengembangan kondotel bisa diarahkan pada daerah-daerah yang menjadi prioritas untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Terlebih bila pemerintah serius mengembangkan daerah tujuan wisata yang sudah ditetapkan dengan dibarengi pengembangan infrastrukturnya.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berencana mengembangkan 50 Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) sampai dengan 2025. DPN tersebut tersebar di seluruh Indonesia. Masing-masing DPN memiliki titik strategis yang akan dikembangkan. Berdasarkan PP No. 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional, Destinasi Pariwisata Nasional adalah Destinasi Pariwisata yang berskala nasional. Wilayah pembangunan DPN meliputi DPN dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Keseluruh 50 DPN tersebar di 33 provinsi dan 88 KSPN tersebar di 50 DPN.

Ke-50 Destinasi Pariwisata Nasional tersebut adalah: 1. Bali – Nusa Lembongan; 2. Komodo – Ruteng; 3. Borobudur – Yogyakarta; 4. Lombok – Gili Tramena; 5. Batam – Bintan; 6. Medan – Toba; 7. Padang – Bukittinggi; 8. Bromo – Malang; 9. Manado – Bunaken; 10. Sorong – Raja Ampat; 11. Pangandaran – Nusakambangan; 12. Toraja – Lore Lindu; 13. Kelimutu – Maumere; 14. Jakarta – Kepulauan Seribu; 15. Palembang – Bangka Belitung; 16. Palangkaraya – Tanjung Puting; 17. Makassar – Takabonerate; 18. Mentawai – Siberut; 19. Nias – Simeuleu; 20. Kendari – Wakatobi; 21. Derawan – Kayan Mentarang; 22. Sentarum – Betung Kerihun; 23. Ambon – Banda Neira; 24. Banda Aceh – Weh; 25. Krakatau – Ujung Kulon; 26. Togean – Gorontalo; 27. Semarang – Karimunjawa; 28. Alor – Lembata; 29. Kupang – Rote Ndao; 30. Sumba – Waikabubak; 31. Moyo – Tambora; 32. Bandung – Ciwidey; 33. Solo – Sangiran; 34. Halmahera – Morotai; 35. Sentani – Wamena; 36. Jambi – Kerinci Seblat; 37. Bogor – Halimun; 38. Surabaya – Madura; 39. Pekanbaru – Rupat; 40. Timika – Lorentz; 41. Bengkulu – Enggano; 42. Natuna – Anambas; 43. Banjarmasin – Martapura; 44. Tenggarong – Balikpapan; 45. Biak – Numfor; 46. Ijen – Alas Purwo; 47. Pontianak – Singkawang; 48. Long Bagun – Melak’ 49. Manokwari – Fak-Fak; dan 50. Merauke – Wasur. (DHP)