Rabu, 08/06/2016

BTN: Relaksasi LTV Diperlukan di Tengah Melemahnya Pasar Properti

-jktproperty.com
Share on: 2465 Views
BTN: Relaksasi LTV Diperlukan di Tengah Melemahnya Pasar Properti
Foto: jktproperty.com
RELAKSASI LTV: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menyambut baik kebijakan Bank Indonesia yang akan melakukan relaksasi LTV (loan to value). Bank plat merah itu juga menilai selama ini LTV mempunyai tujuan positif untuk mengendalikan laju pertumbuhan kredit. LTV juga sangat bermanfaat dalam mengintervensi harga property. LTV pada akhirnya berhasil menahan spekulasi dalam bisnis properti.

JAKARTA, jktproperty.com – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menyambut baik kebijakan Bank Indonesia yang akan melakukan relaksasi LTV (loan to value). Bank plat merah itu juga menilai selama ini LTV mempunyai tujuan positif untuk mengendalikan laju pertumbuhan kredit. LTV juga sangat bermanfaat dalam mengintervensi harga property. LTV pada akhirnya berhasil menahan spekulasi dalam bisnis properti.

Namun menurut Dirut Bank TN Maryono, saat ini dengan kondisi permintaan kredit di pasar cenderung turun dan bisnis properti secara umum masih lemah, relaksasi LTV sangat diperlukan.

“Kami menyambut positif kebijakan tersebut dan ini akan mendorong bisnis di seputar pembiayaan perumahan bergairah hidup untuk tumbuh lebih baik,” ujarnya dalam dialog menjelang berbuka puasa bersama media di Jakarta, Rabu (8/6).

Dia mengatakan LTV yang sudah berjalan telah berhasil mengintervensi pembiayaan perumahan. Laju kredit dengan kebijakan LTV yang diberlakukan tahun 2012 dan 2013 dapat dikendalikan untuk tidak tumbuh terlalu tinggi. “Kredit BTN tumbuh tinggi, bahkan diatas rata-rata industri karena permintaan masyarakat bawah akan rumah terus ada setiap tahunnya. Pertumbuhan kredit ini masih dapat dikendalikan,” jelas Maryono.

Relaksasi LTV yang akan dilakukan oleh BI menurut Maryono akan mendorong pertumbuhan kredit perseroan. Sekaligus ini akan mendorong percepatan pemenuhan program sejuta rumah tahun 2016 yang ditargetkan BTN dapat memberikan dukungan pembiayaan untuk 570.000 unit rumah.

Masyarakat yang akan membeli rumah dengan fasilitas KPR juga turut diuntungkan dengan relaksasi ini karena DP akan lebih kecil. DIsisi lain kebijakan ini juga akan menggerakkan pembangunan perumahan oleh pengembang karena permintaan masyarakat akan rumah tumbuh. Relaksasi LTV pada akhirnya akan menjadi mata rantai bagi bergeraknya bisnis pembangunan perumahan.

Bukan hanya bisnis properti tetapi lebih dari itu bahwa semua sektor terkait bisnis pembangunan perumahan akan bergerak dan itu menjadi sumber untuk memperkuat system ekonomi nasional. Pembiayaan perumahan itu berdampak pula terhadap GDP (gross domestic product) dan itu menjadi nadi bagi ekonomi bangsa.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Maret 2016 (unaudited) Bank BTN mencatatkan kredit dan pembiayaan tumbuh 18,9% menjadi sebesar Rp143 Triliun. Kredit dan pembiayaan pada periode yang sama tahun 2015 tercatat Rp120 triliun. Pertumbuhan kredit pada Triwulan I 2016 ini sekaligus menjawab permintaan masyarakat terhadap rumah masih cukup tinggi. Khusus untuk pasar Bank BTN, pertumbuhan kredit untuk triwulan I 2016 ini adalah potret permintaan masyarakat akan hunian kelas menengah bawah masih cukup tinggi.

 Bank BTN masih menjadi pemimpin pasar pembiayaan perumahan di Indonesia dengan penguasaan pangsa pasar total KPR sebesar 31%.  Sementara untuk segmen KPR subsidi, peran Bank BTN sangat dominan dengan menguasai pangsa pasar 97% dari total penyaluran FLPP tahun 2015. (DHP)