Senin, 19/03/2012

Brasali Bangun Mercure Bali Legian Rp300 Miliar

-jktproperty.com
Share on: 541 Views
Brasali Bangun Mercure Bali Legian Rp300 Miliar

JAKARTA: Grup Brasali melalui anak perusahaannya PT Budi Mulia Prima Realty merencanakan membangun proyek kondominium hotel (kondotel) dengan label Mercure Bali Legian dengan investasi sedikitnya Rp300 miliar.

Managing Director Brasali Group Iwan Putra Brasali mengatakan Mercure Bali Legian dibangun di atas lahan seluas 8.500 m2 dengan luas bangunan 5 lantai yang mencapai lebih 21.000 m2. “Kapasitas hotel dan kondotel ini secara keseluruhan adalah 317 kamar. Dari jumlah itu, total kondotel yang kami tawarkan kepada calon investor sebanyak 150 unit, dan saat ini telah laku 74 unit,” ujarnya dalam konferensi pers Mercure Bali Legian di Jakarta.

Dia mengatakan investasi sebesar Rp300 miliar itu sebagian diambil dari hasil pre-sales 74 unit kondotel Mercure Bali Legian. “Kami akan memulai pembangunan kondotel ini pertengahan 2012 dan sebelum akhir 2014 dijadwalkan sudah selesai pembangunannya dan bisa serah terima kepada investor,” tambah Iwan.

Lebih lanjut dia mengatakan untuk proyek kondotel Mercure Bali Legian, Grup Brasali menggandeng Accor Group yang membawahi bendera Mercure selaku operator bagi proyek yang berlokasi di Jl. Raya Legian, Bali ini. Mercure Bali Legian Hotel dan Kondotel dibangun di atas tanah hak guna bangunan (HGB) selama 50 tahun, yang akan berakhir pada 2061. Selain fasilitas hotel bintang 4, 19 unit kondotel yang ditawarkan pengembang juga dilengkapi dengan kolam renang pribadi (private pool). Harga kondotel Mercure Bali Legian dibuka mulai Rp875 jutaan per unit.

Grup Brasali sebelumnya telah membangun sejumlah proyek di Pulau Jawa a.l. Menara Batavia dan Apartemen Batavia, Apartemen Bukit Golf Pondok Indah, Hotel Ibis Mangga Dua, dan Hotel Ibis Rajawali Surabaya. Tahun ini, Grup Brasali berkonsentrasi untuk penambahan proyek hotel dan perkantoran.

Mengenai digandengnya Accor untuk mengelola kondotel ini nantinya, Itje Indrawati, Chief Executive Officer PT Budi Mulia Prima Realty mengatakan pihaknya memilih Grup Accor karena memiliki rekam jejak yang baik. “Grup Accor adalah salah satu operator terbesar di dunia. Kebanyakan orang Indonesia senang menginap di hotel yang dikelola Accor.

“Selain itu kami juga telah bekerjasama dengan dengan Accor selama 15 tahun untuk hotel-hotel yang kami bangun, dan tingkat okupansinya tidak pernah di bawah 80%. Itu alasan kami memilih Accor,” kata Itje.

Sementara itu Yonto Wongso, Direktur Pengembangan Grup Accor untuk Indonesia-Malaysia menambahkan, sebagai hotel bintang 4, dia optimistis tingkat okupansi hotel dan kondotel ini nantinya berkisar 80%, sebagaimana rata-rata tingkat okupansi hotel lain yang dikelola grup tersebut. “Rata-rata tingkat okupansi 10 hotel di Indonesia yang kami kelola saat ini adalah 80%, saya rasa Mercure Bali Legian ini nantinya juga ada di kisaran itu,” tuturnnya.

Optimisme itu tampaknya beralasan mengingat kawasan Kuta-Legian selalu dipadati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Dalam jangka waktu 2-3 tahun ke depan Accor memprediksi akan mengelola lebih dari 20 hotel maupun kondotel di Indonesia.

Ekspansi Accor di Indonesia memang terbilang paling gesit dibandingkan international chain hotel lainnya. Selain di Legian, Bali, Accor juga saat ini tengah merencanakan membuka Mercure Padang di Sumatera Barat dan Mercure Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Pembukaan dua hotel itu memperkuat posisi Accor sebagai operator hotel terbesar di Indonesia dengan 49 hotel beroperasi, tersebar di 20 kota.

Seperti diungkapkan Gerard Guillouet, Vice President Accor di Malaysia, Singapura, dan Indonesia, makin meningkatnya pengembangan beragam segmen hotel di Indonesia membuat pihaknya berupaya merealisasikan hotel merek tertentu. “Salah satunya adalah Mercure, brand midscale terkemuka Accor yang jumlahnya hampir 700 hotel di 50 negara, termasuk 10 hotel beroperasi di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Tony Eddy, chairman Tony Eddy & Associates yang juga project marketing consultant untuk proyek ini mengatakan tidak terlalu khawatir mengenai anggapan bahwa hotel maupun kondotel di Bali sudah kelebihan suplai. Menurut Tony, hotel dan kondotel yang dibangun oleh pengembang dengan rekam jejak yang bagus, dikelola oleh operator yang baik, berada di lokasi yang strategis, dan memiliki konsep yang tepat akan memiliki tingkat okupansi yang cukup tinggi.

“Coba saja Anda datang ke Bali saat musim liburan. Sulit sekali mencari kamar hotel. Itu menandakan kebutuhan di sana masih ada. Lagipula selama ini, hotel besar dengan brand ternama tingkat okupansinya tidak terkoreksi terlalu banyak akibat menjamurnya hotel baru,” katanya.

Mengenai investor kondotel, dia mengatakan sejauh ini investor yang tertarik dengan penawaran kondotel Mercure Bali Legian berasal dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya, serta sedikit investor dari luar negeri. (DHP)