Kamis, 26/11/2015

Bogor Berlakukan Moratorium Pembangunan Mal dan Hotel

-jktproperty.com
Share on: 1413 Views
Bogor Berlakukan Moratorium Pembangunan Mal dan Hotel
Foto: Ilustrasi
MORATORIUM HOTEL DAN MAL: Pemerintah Kota Bogor memberlakukan moratorium pembangunan mal dan hotel sekaligus mengubah orientasi pembangunan kota ini dari sebelumnya terkonsentrasi di pusat kota diarahkan ke pinggiran kota.

JAKARTA, jktproperty.com – Pemerintah Kota Bogor memberlakukan moratorium pembangunan mal dan hotel sekaligus mengubah orientasi pembangunan kota ini dari sebelumnya terkonsentrasi di pusat kota diarahkan ke pinggiran kota.

Menurut Walikota Bogor Bima Arya dengan menciptakan pusat-pusat kegiatan di pinggiran kota maka beban kota yang terlampau berat akan berkurang. “Saya menginstruksikan moratorium pembangunan hotel dan mal di Kota Bogor kecuali untuk proyek-proyek yang sudah berjalan,” ujarnya saat diskusi mengenai urbanisasi berkelanjutan di Jakarta, Kamis (26/11).

Menurut dia, Pemkot Bogor perlu menata pembangunan Kota Bogor karena kota ini sudah terlampau padat, persoalannya tambah kompleks, dan kenyamanannya berkurang. Ia menyebutkan kegiatan yang terkonsentrasi di pusat kota itu disebabkan konsep pembangunan yang terpusat (radial concentrate).

Pusat pemerintahan, bisnis, pendidikan, belanja, hingga tempat peribadatan berada di kota. Selain itu sebagai kota penyangga Jakarta pertumbuhan perumahan di Bogor tumbuh pesat. Mereka yang tinggal di Bogor itu banyak yang bekerja di Jakarta sehingga menciptakan gelombang komuter cukup besar dan membuat kemacetan di Kota Bogor.

Bima lebih lanjut mengatakan setiap harinya ada 800.000 komuter dari Bogor ke Jakarta dan setiap minggu (akhir pekan) ada 200.000 -300.000orang masuk Kota Bogor untuk berwisata. “Kami akan melakukan redistribusi fungsi dengan menggerakan pusat-pusat kegiatan ke pinggir kota,” tambah Bima.

Saat ini Pemkot Bogor tengah membahas rencana detail tata ruang wilayah (RTRW) bersama DPRD. Ke depan, Kota Bogor akan dikembalikan sebagai kawasan heritage atau kota pusaka. Fungsi-fungsi perdagangan, wisata, dan lainnya akan didistribusikan ke berbagai wilayah sesuai peruntukannya. Kawasan selatan diprioritaskan sebagai kawasan wisata, barat untuk pertanian, dan utara untuk bisnis. (EKA)