Selasa, 13/11/2012

Bisnis Rumah Sakit Makin Sehat

-jktproperty.com
Share on: 439 Views
Bisnis Rumah Sakit Makin Sehat

Oleh: Deddy H. Pakpahan

KALAU ditanya apa alasan membangun sebuah rumah sakit? Sebagian besar pemilik rumah sakit pasti akan menjawab bahwa ‘bisnis rumah sakit’ yang ditekuninya tak semata-mata bertujuan mencari untung. Mereka serentak akan menjawab bahwa bisnisnya itu adalah panggilan kemanusian atau dengan bahasa lain menolong sesama yang secara ekonomi tidak bisa diakomodir oleh tarif rumah sakit yang sekarang ini dipatok setinggi langit.

Jujurkah jawaban itu? Saya menyangsikannya, karena yang namanya bisnis selalu punya tujuan mengembalikkan investasi sekaligus mengejar keuntungan semaksimal mungkin, meski dalam konteks bisnis rumah sakit mungkin tak 100% meninggalkan aspek kemanusiaan, tapi porsinya kemungkinan kecil sekali dibandingkan dengan aspek ekonominya. Perbandingannya bisa saja 80:20; 85:15; 90:10; atau bahkan 95:5.

Tapi faktanya para pemilik rumah sakit seperti malu-malu atau merasa tak pantas untuk jujur mengatakan bahwa membangun rumah sakit adalah bisnis yang menggiurkan bagi mereka, sebab fulus yang mereka kantongi sangatlah besar.

Di Indonesia bisnis rumah sakit terlihat semakin sumrigah dengan masuknya perusahaan-perusahaan besar, terutama perusahaan properti. Sebut saja Grup Lippo yang memulai debutnya di bisnis rumah sakit sejak 1996 yang kemudian diikuti Grup Sinar Mas, Grup Ciputra, Grup Mayapada dan Grup Sahid yang sebelumnya berkutat di bisnis perhotelan.

Masuknya pebisnis properti ke bisnis rumah sakit sebenarnya sah-sah saja. Mereka menangkap peluang yang cukup besar lantaran masih banyak orang Indonesia yang pergi berobat ke luar negeri karena fasilitas rumah sakit yang ada di Indonesia dinilai kurang memadai dan sedikit sekali rumah sakit yang memiliki standar internasional. Tenaga medis yang ada pun dianggap kurang andal. Tren sekarang ini, orang-orang kaya dan keluarga pejabat di Indonesia memang senang berobat di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, China atau bahkan di negara-negara Eropa.

Berdasarkan catatan yang ada, pada 2011 lalu, diperkirakan devisa yang kabur ke luar negeri yang dibawa para pasien asal Indonesia mencapai Rp110 triliun. Melihat angka-angka itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghimbau agar masyarakat tak perlu berobat ke luar negeri karena rumah sakit yang ada di Indonesia sudah memadai dan tak kalah dengan rumah sakit di luar negeri. Ironisnya, tak berapa lama setelah SBY mengimbau agar masyarakat tak perlu berobat ke luar negeri, justru ibu negara Ani Yudhoyono menjalani pengobatan di Allegheny General Hospital, Pittsburgh, Amerika Serikat. Kabarnya Bu Ani—begitu dia biasa dipanggil—dirujuk ke rumah sakit terkenal di AS itu untuk menjalani operasi saraf leher yang sebenarnya bisa dilakukan oleh rumah sakit yang ada di Indonesia. Hal ini sempat menjadi perdebatan hangat di parlemen. Tapi ibarat pepatah anjing menggonggong khafilah tetap berlalu, berlalu pula-lah perdebatan pro dan kontra itu.

Terus Bertambah

Menurut data Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) yang mengutip data Ditjen Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah rumah sakit di Indonesia hingga Mei 2012 mencapai 1.959 unit. Jumlah itu meliputi rumah sakit pemerintah sebanyak 785 unit yang terdiri dari rumah sakit di bawah langsung Kemenkes sebanyak 40 unit, pemerintah provinsi 88 unit, pemerintah kabupaten 423 unit, pemerintah kota 89 unit, kementerian lain 2 unit, TNI 109 unit, dan Polri 34 unit. Sementara 699 lainnya meliputi rumah sakit swasta non profit, swasta private sebanyak 403 unit dan rumah sakit yang dikelola BUMN sebanyak 77 unit.

Pertumbuhan rumah sakit di Indonesia setiap tahunnya rata-rata mencapai 100 unit dan pertumbuhan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi perkembangan suatu daerah, ketersediaan tenaga medis, pemodal, serta pangsa pasar. Jadi jelas bahwa mendirikan sebuah rumah sakit, bagi swasta, tidak bisa hanya mengandalkan aspek kemanusiaan dan mengabaikan begitu saja pengembalian modal atau keuntungan dari operasional rumah sakit.

Kenyataannya bisnis rumah sakit memang semakin sehat saja. PT Lippo Karawaci Tbk misalnya. Pada semester pertama 2012 memperoleh pendapatan Rp2,41 triliun atau naik 28% dibandingkan periode yang sama 2011. Laba bersih perseroan ini terkerek naik 47% atau menjadi Rp437 miliar. Dikabarkan seluruh divisi usaha Lippo Karawaci tumbuh, namun kenaikan pendapatan paling tajam adalah divisi usaha rumah sakit yang melonjak 37% menjadi Rp811 miliar. Memang, pendapatan terbesar Lippo Karawaci masih berasal dari divisi usaha residential dan township yang membukukan pendapatan Rp1,13 triliun atau naik 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu pendapatan dari divisi komersial yang mencakup retail malls & hotels naik 24% menjadi Rp245 miliar dan divisi usaha asset management naik 14% menjadi Rp220 miliar.

Tapi melihat pertumbuhan pendapatan yang meroket di divisi rumah sakit plus rencana perseroan ini untuk mengembangkan bisnis rumah sakitnya di Indonesia, saya kira divisi rumah sakit Grup Lippo yang mengusung brand Siloam Hospitals akan memberikan kontribusi yang dominan kepada perseroan dalam 2-3 tahun mendatang.

Siloam Hospitals saat ini mengoperasikan sembilan rumah sakit, sementara sebelas rumah sakit lainnya dalam proses pembangunan. Ekspansi Siloam Hospitals meliputi Bali, Makassar, Palembang, Malang, Medan, Jakarta, Banten, Ambon dan Siloam Hospitals Manado yang dioperasikan Juni lalu. Target tahun ini Lippo mengoperasikan 15 rumah sakit dan dalam 3-4 tahun ke depan diharapkan jumlahnya lebih banyak lagi menjadi 20-25 rumah sakit.

Seperti Sihir

Angka-angka pendapatan dari pengoperasian rumah sakit milik Grup Lippo tak ubahnya sihir yang membuat pengembang lain seperti Grup Ciputra juga tertarik membenamkan investasinya di bisnis yang makin sehat saja. Candra Ciputra, CEO Grup Ciputra menyatakan kelompok usahanya menyiapkan investasi tak kurang dari Rp500 miliar untuk membangun rumah sakit dengan brand Ciputra Hospital.

Dalam kurun waktu lima tahun ke depan, Grup Ciputra melalui PT Ciputra Development Tbk menargetkan membangun 10 rumah sakit di beberapa kota. Saat ini perseroan tengah melakukan studi kelayakan di lima kota, yakni Jakarta, Makassar, Palembang, Manado dan Surabaya.

Peta persaingan rumah sakit di Indonesia, dengan masuknya pemain-pemain baru, tentu akan semakin sengit. Tapi tak masalah, selama persaingan masih dalam tatar yang sehat. Lagi pula, seperti pernah dikatakan pendiri Grup Lippo Mochtar Riady bahwa pengembangan rumah sakit di Indonesia penting untuk menarik kembali tren pasien yang berobat ke rumah sakit di luar negeri, munculnya banyak rumah sakit bertaraf internasional bisa meminimalisir devisa nasional yang kabur ke luar negeri.

Selain itu, di masa mendatang diharapkan keberadaan rumah sakit bertaraf internasional yang kini banyak dibangun pengembang di beberapa destinasi wisata akan memberikan kontribusi yang positif pula terhadap industri pariwisata. Kalau Malaysia, Singapura atau China sukses mengemas wisata kesehatan, Indonesia juga pasti bisa karena kita punya objek wisata yang tak kalah hebat dibandingkan objek wisata yang mereka miliki. Tinggal bagaimana kita mengemasnya.