Senin, 11/04/2011

Bintan, ‘Batu Permata’ Asia yang Tersembunyi

-jktproperty.com
Share on: 1174 Views
Bintan, ‘Batu Permata’ Asia yang Tersembunyi

JAKARTA: Pemerintah Indonesia berambisi menyaingi daya tarik Singapura sebagai negeri tujuan wisata dengan membangun kawasan wisata terpadu Pesona Lagoi Bintan di Bintan yang terletak di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Investasinya tak tanggung-tanggung, Rp16,5 triliun.

Di atas lahan seluas 338 hektare di kawasan Teluk Sebong, Lagoi, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, proyek tersebut akhir Februari lalu diresmikan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Pemerintah mengharapkan pengembangan kawasan wisata terpadu itu diharapkan bisa mengubah peta tujuan wisatawan. Jika saat ini wisatawan berkunjung ke Singapura, baru kemudian mampir ke Bintan, nanti yang berlaku adalah sebaliknya.

“Pada saatnya nanti, kita dapat mengatakan, dengan mengunjungi Bintan, Anda akan menemukan banyak hal yang khas. Setelah itu, silakan kalau mau berkunjung ke Singapura atau ke tempat lain,” ujar Yudhoyono saat meresmikan sekaligus memberi nama baru kawasan wisata terpadu ini.

Wilayah Kepulauan Riau, menurut presiden, bisa menjadi kawasan ekonomi yang maju sehingga membawa kesejahteraan bagi masyarakat. “Kita tidak ingin yang maju hanya Singapura. Kita ingin sama majunya dengan Singapura di masa mendatang. Bahkan, kita punya potensi untuk bisa lebih,” tambahnya. Dalam pengembangan suatu kawasan wisata, demikian Yudhoyono, perlu dipikirkan apa yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Dia mencontohkan wisatawan yang memilih berlibur ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Tiongkok. “Tapi, Bintan, kawasan sekitar ini, berbeda. Ada daya tarik tersendiri. Dengan demikian, mereka pun akan berkunjung ke Bintan.” Kawasan Wisata Terpadu Pesona Lagoi Bintan sebelumnya bernama Bintan Treasure Bay. Pembangunan kawasan wisata itu dilakukan konsorsium yang beranggota PT ND Rekayasa Prima, Landmarks Berhad, dan WHT Capital Sdn Berhad.

Direktur PT ND Rekayasa Prima Noegroho Djajoesman menuturkan, rencana pembangunan meliputi beberapa fasilitas. Di antaranya, terminal feri internasional, terminal pesawat terbang laut, tempat kunjungan kapal pesiar, dan sarana wisata air. Selain itu, akan dilengkapi dengan apartemen, convention center, universitas, dan rumah sakit bertaraf internasional. Noegroho optimistis, Bintan sebagai tujuan wisata utama di wilayah barat baik untuk wisatawan domestik atau asing, bahkan akan bisa mengalihkan para wisatawan Asia Tenggara yang sekarang berjumlah sekitar 65 juta per tahun. Dia mengungkapkan telah berdiskusi dengan pelaku bisnis perhotelan, penyelam profesional, peselancar, pelaku perahu pesiar, dan spesialis maritim. “Di Bintan kami menemukan batu permata Asia yang tersembunyi, hidden gems of Asia di laut Indonesia,” katanya.

Lokasi Perjudian

Sebelum peresmian proyek Pesona Lagoi Bintan, tersebar kabar bahwa di kawasan ini juga akan dibangun kawasan perjudian yang tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi para penjudi di kawasan Asia yang selama ini bertandang ke Malaysia, Singapura atau Macau. Namun kabar tersebut dibantah pemerintah melalui jurubicara kepresidenan Julian Adrian Pasha. “Ini adalah kawasan wisata terpadu dan tidak benar bila diisukan sebagai tempat perjudian,” katanya.

Terlepas dari isu bahwa kawasan wisata terpadu ini juga dilengkapi tempat berjudi, potensi Bintan dalam hal pariwisata memang sangat besar. Di bidang pariwisata, iklim dan kondisi alam yang eksotis menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan mancanegara. Lagoi misalnya yang memiliki pemandangan laut dan pantai yang telah menarik minat lebih dari 40.000 wisatawan mancanegara.

Di lahan seluas 23.000 hektar sekarang ini terdapat 7 hotel bertaraf internasional, 2 Resort dan 2 lapangan golf bertaraf internasional dengan 36 hole. Untuk menarik minat investor, pemerintah setempat telah mengalokasikan lahan seluas 500 hektar di daerah Kijang dan 100 hektar di Bintan Barat sebagai areal hutan industri dan pengembangan pantai. Pengembangan pariwisata dilakukan dengan bekerja sama dengan Singapura untuk membangun Bintan Utara. Namun satu hal yang perlu diperhatikan adalah soal keterbatasan infrastruktur di Bintan yang menjadi kendala pengembangan sektor pariwisata.

Padahal, keindahan pantainya berpotensi dilirik untuk pengembangan proyek properti penunjang pariwisata seperti resort, vila, hotel maupun kondominium. Tampaknya, sejalan dengan semangat pemerintah Indonesia dalam mengembangkan Bintan, perlu dipikirkan pula untuk lebih menggenjot pembangunan infrastruktur, terutama infrastruktur jalan, agar investor bisa lebih banyak lagi yang masuk dan tentunya akan berdampak signifikan terhadap meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke daerah ini. (DHP)