Sabtu, 11/10/2014

Berbagai Kendala Masih Menghadang Eksistensi Arsitek Lokal

-jktproperty.com
Share on: 1453 Views
Berbagai Kendala Masih Menghadang Eksistensi Arsitek Lokal
Ilustrasi
ARSITEK LOKAL: Kurangnya pengalaman juga dinilai sebagai penghadang kemajuan arsitek lokal. “kibat kurang pengalaman, akhirnya mereka kalah bersaing. Di Jakarta misalnya, tidak banyak arsitek yang pernah mendesain bangunan di atas 50 lantai. Developer pasti cari arsitek asing. Lalu superblok. Tak banyak arsitek kita yang mampu mendesain sebuah superblok, Ini kendala.

JAKARTA, jktproperty.com – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mengungkapkan kemampuan arsitek Indonesia sebenarnya tak kalah jika dibandingkan dengan kemampuan arsitek mancanegara. Hal itu terbukti dengan dipakainya jasa arsitektur lokal di perusahaan -perusahaan asing. Namun berbagai kendala dirasakan masih menghadang eksistensi arsitek lokal.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Steve J. Manahampi mengatakan, arsitek Indonesia punya potensi dan kemampuan yang bisa disejajarkan dengan arsitek asing. “Buktinya arsitek Indonesia banyak kok yang dipakai perusahaan asing. Arsitek kita sudah mendunia. Banyak arsitek Indonesia yang sudah go international, mereka bekerja di Australia, Singapura dan banyak negara lain,” ujarnya saat press conference Design Week 2.2 di Jakarta.

Menurut dia, bahkan beberapa arsitek Indonesia ada yang membuka biro konsultansi di Eropa. “Artinya apa? Menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun depan, arsitek Indonesia tidak takut bersaing dengan arsitek dari negara-negara ASEAN lainnya. “Namun ada hal yang kami khawatirkan atas terbukanya pasar ASEAN yakni ketiadaan regulasi yang mengatur arsitek dan arsitektur secara komprehensif,” katanya.

Tidak adanya landasan hukum yang jelas tersebut merupakan kendala utama profesi arsitek di Indonesia kurang berkembang. Di Indonesia, siapa pun yang memiliki ijazah arsitek, bisa mengaku sebagai arsitek dengan menawarkan desain rumah atau gedung. “Seperti pengacara, dengan ijazah sarjana hukum, kan tidak bisa langsung jadi pengacara. Tapi arsitek bisa,” tuturnya.

Padahal, demikian Steve, menjadi arsitek tantangannya lebih berat dibandingkan dengan pengacara atau dokter sekalipun. Profesi dokter, misalnya, paling tidak hanya bertanggung jawab atas nyawa satu sampai dua pasiennya, sedangkan arsitek bisa menanggung lebih dari 100 orang dalam satu gedung yang dirancangnya.

Selain itu mengapa arsitek Indonesia kurang mampu bersaing bahkan dengan negara tetangga, menurut Steve, adalah soal mindset pengembang di Indonesia. “Kami menyebutnya kendala mindset. Ya, pengembang di sini merasa lebih keren bila menggunakan arsitek asing.”

Kurangnya pengalaman juga dinilai sebagai penghadang kemajuan arsitek lokal. “Akibat kurang pengalaman, akhirnya mereka kalah bersaing. Di Jakarta misalnya, tidak banyak arsitek yang pernah mendesain bangunan di atas 50 lantai. Developer pasti cari arsitek asing. Lalu superblok. Tak banyak arsitek kita yang mampu mendesain sebuah superblok, Ini kendala,” katanya. (GUN)