Kamis, 15/03/2012

Bank Indonesia Rem Kredit Perumahan

-jktproperty.com
Share on: 447 Views
Bank Indonesia Rem Kredit Perumahan

JAKARTA: Bank Indonesia akan mengerem laju pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) dengan mengatur besaran loan to value (LTV). Tahun lalu, dari total kredit properti sebesar Rp301,27 triliun, KPR dan KPA mendominasi dengan capaian sebesar Rp182,63 triliun atau jauh di atas kredit konstruksi (Rp74,89 triliun) dan kredit real estate (Rp43,73 triliun).

“Kami [Bank Indonesia] memang ingin mendorong pertumbuhan kredit, tapi untuk pertumbuhan kredit yang sifatnya konsumtif diharapkan dapat lebih lambat. Pertimbangan lain adalah agar pemberian kredit tidak dilakukan tanpa down payment yang jelas,” ujar Gubernur BI Darmin Nasution.

Selain untuk down payment (DP) KPR, BI berniat mengurangi pertumbuhan kredit konsumtif dengan pengaturan besaran LTV untuk kredit kendaraan bermotor (KKB) yang dinilai BI juga mengalami pertumbuhan yang sangat tajam.

Lebih lanjut dia mengatakan BI telah mengeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.14/10/DPNP tentang Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor. Rasio LTV yang ditetapkan BI untuk KPR adalah maksimal 70%, sedangkan uang muka minimal bagi motor sebesar 25%, mobil minimal 30%, dan untuk keperluan produktif minimal down payment-nya 20%.

“Besaran itu ditentukan dengan pertimbangan bahwa angkanya tidak jauh dari praktik yang berlaku di lapangan selama ini. Kami juga melihat bagaimana aturan LTV ini ditetapkan di negara lain,” tutur Darmin.

Bapepam-LK Telah Sepakat

Lebih lanjut Darmin Nasution mengatakan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) juga menyepakati aturan mengenai pembatasan kredit itu dan akan mengeluarkan kebijakan serupa bagi lembaga keuangan.

“Aturan ini lebih bagus lagi karena sama-sama ditujukan bagi perbankan dan lembaga pembiayaan, Bapepam-LK juga mengeluarkan aturan yang sama untuk lembaga pembiayaan walau besarannya sedikit berbeda, kalau tidak salah DP lembaga pembiayaan lebih rendah 5%,” katanya.

Berdasarkan pengamatan BI, pertumbuhan kredit konsumtif, KPR dan KKB pada 2011 mencapai sekitar 33%. Angka itu lebih besar dibandingkan pertumbuhan kredit keseluruhan yang hanya sebesar 24%-25%. Dampak pengaturan itu, demikian Darmin, memang tidak besar, namun bisa lebih memperlamban pertumbuhan.

Untuk LTV atau angka rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan pada saat awal pemberian kredit, sebesar maksimal 70% untuk KPR meliputi kredit konsumsi kepemilikan rumah tinggal, termasuk rumah susun atau apartemen. Namun demikian, angka itu tidak termasuk rumah kantor dan rumah toko, dengan tipe bangunan lebih dari tujuh puluh meter persegi. Pengaturan mengenai LTV dikecualikan terhadap KPR dalam rangka pelaksanaan program perumahan pemerintah. (SIN)