Senin, 29/10/2012

Bank BTN & HDFC Cari Solusi Pembiayaan Perumahan di Indonesia

-jktproperty.com
Share on: 531 Views
Bank BTN & HDFC Cari Solusi Pembiayaan Perumahan di Indonesia

NUSA DUA, Bali: Potensi pembiayaan perumahan di Indonesia sangatlah besar sejalan dengan pertumbuhan populasi penduduk. Hal inilah yang memunculkan backlog di sektor perumahan, dimana rumah yang dibangun jumlahnya masih jauh di bawah kebutuhan yang tentunya terkait dengan persoalan pembiayaan perumahan.

Untuk mencari solusi pembiayaan perumahan yang mampu meminimalisir backlog yang ada, Bank BTN dan Housing Development Finance Corporation Ltd. (HDFC)—bank perumahan di India— menyelenggarakan International Seminar and Trainning Housing Finance Beyond 2012 di Bali. Menurut Evi Firmansyah, Wakil Direktur Utama Bank BTN, dalam siaran persnya yang diterima jktproperty.com hari ini, seminar dan training ini diikuti delegasi dari beberapa negara.

“Kami mengharapkan melalui event ini memperoleh model pembiayaan perumahan yang tepat serta solusi pembiayaan perumahan untuk Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan seminar dan training ini diharapkan menjadi salah satu solusi. Bank BTN sebagai pemimpin pasar perumahan di Indonesia akan terus berupaya dalam mencari solusi pembiayaan perumahan nasional. “Sebagai pemimpin pasar perumahan di Indonesia, BTN perlu melakukan itu dengan mencari bentuk atau model pembiayaan yang lebih inovatif dan efisien,” ungkap Evi.

Kesenjangan antara kesiapan dana yang disiapkan perbankan dengan kredit yang disalurkan perbankan dalam pembiayaan perumahan, lanjut dia, masih menjadi isu utama hingga saat ini dalam pembiayaan perumahan di Indonesia. Itulah sebabnya perlu dicarikan solusi dalam mengatasi masalah tersebut. “Pola pembiayaan perumahan yang ideal akan menghasilkan cost of fund yang murah sehingga berdampak pada suku bunga yang murah. Di lain pihak efisiensi usaha dapat diperoleh perbankan dalam pola pembiayaan perumahan,” kata Evi.

Seminar dan training ini diikuti oleh lebh dari 120 perserta dari dalam dan luar negeri. Beberapa peserta dari luar negeri tercatat antara lain berasal dari Tanzania, Uganda, Malaysia, Srilangka dan India. Sementara peserta dari dalam negeri berasal dari kalangan perbankan, pengembang, konsultan properti dan frofesi lain terkait dengan masalah perumahan.

HDFC Berpengalaman

Dipilihnya HDFC tak lain karena lembaga ini keuangan ini berpengalaman dalam memberikan pembiayaan perumahan di India. Ini merupakan tindak lanjut dari MOU yang ditandatangani antara Bank BTN dengan HDFC.

Sebelumnya Bank BTN pernah melakukan studi banding ke HDFC India. Dalam studi banding tersebut disepakati untuk menjalin kerjasama timbal balik yang saling menguntungkan, sehingga ada sinergi bagi masing-masing pihak. Dalam MOU tersebut disepakati tertuang beberapa aspek yang dimungkinkan untuk terjalinnya kerjasama, antara lain pelatihan bagi Bank BTN, pertukaran karyawan antara Bank BTN dan HDFC, technical advisory service bagi Bank BTN, dan kemungkinan untuk mendirikan mortgage learning center di Indonesia.

Benchmark ke HDFC India merupakan salah satu upaya yang kami tempuh. Mereka sangat berpengalaman. Loan origination system dan loan recovery yang sangat baik sehingga mampu memiliki kontribusi besar dalam efisiensi perusahan,” tambah Evi.

Sebagai informasi HDFC sejak berdiri 1977 telah memberikan KPR kepada lebih dari 3,5 juta nasabah. Pertumbuhan kredit dalam 5 tahun terakhir rata-rata 25%. HDFC sangat efisien dalam menjalankan bisnisnya dengan CIR (cont to income ratio) sebesar 7,9% dan NPL rata-rata sekitar 0,79%. Sementara berdasarkan kinerja Bank BTN per 30 September 2012 tercatat kredit yang diberikan tumbuh 29,10% dari Rp59,31 triliun pada posisi yang sama tahun 2011 menjadi Rp76,57 triliun pada posisi yang sama 2012. NPL (non performing loan) Bank BTN tercatat 2,51% pada 2012 atau lebih baik dari NPL tahun 2011 yang sebesar 3,46%. Sementara CIR tercatat sebesar 56,43% pada 2012 atau lebih baik dari tahun 2011 yang sebesar 63,63%. Komposisi kredit Bank BTN pada posisi yang sama pada 2012 masih didominasi oleh kredit perumahan dengan porsi 86,32% atau sebesar Rp66,09 triliun dan sisanya 13,68% atau sebesar Rp10,48 triliun disalurkan untuk kredit non perumahan. (DHP)