Selasa, 12/08/2014

Balikpapan, Solo dan Yogyakarta Kota Paling Layak Huni di Indonesia

-jktproperty.com
Share on: 1050 Views
Balikpapan, Solo dan Yogyakarta Kota Paling Layak Huni di Indonesia
Foto: skyscrapercity.com
KOTA LAYAK HUNI: Balikpapan unggul dalam aspek tata kota dan pengelolaan lingkungan dibandingkan dengan lainnya yang disurvei IAP berdasarkan persepsi masyarakat. Kota terbesar kedua di Kalimantan Timur ini mengalahkan Yogyakarta yang meraihnya dua kali berturut-turut yakni pada 2009 dan 2011.

JAKARTA, jktproperty.com – Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) mempublikasikan Indonesian Most Livable City Index untuk mengukur kualitas kehidupan warga kota dan identifikasi awal faktor-faktor kritis pembangunan pada masing-masing kota berdasarkan persepsi warganya. Balikpapan, Solo dan Yogyakarta dinobatkan sebagai tiga kota teratas yang paling layak huni di Indonesia. Sementara ko0ta-kota metropolitan seperti Jakarta, Medan, Semarang dan Surabaya terpuruk di urutan bawah.

Menurut Ketua Umum IAP, Bernardus R. Djonoputro, Indonesian Most Livable City Index memasukkan 17 kota yang ada di Indonesia. Kota yang disurvei tersebut adalah Bogor, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Yogyakarta, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, Makassar, Jayapura, Palembang, Medan dan DKI Jakarta. Kota-kota ini dinilai dengan skala 0-80 dan hanya ada tujuh kota yang memiliki nilai di atas rata-rata nasional.

“Skor tertinggi adalah Balikpapan, yakni 71,12. Lalu Solo (69,38), Malang (69,3), Yogyakarta (67,39), Palembang (65,48 persen), Makassar (64,79) dan Bandung (64,4). Jumlah responden dalam survei ini berjumlah 1.000 orang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan margin error sebesar 2%,” katanya di Jakarta.

Menurut Bernadus, Balikpapan unggul dalam aspek tata kota dan pengelolaan lingkungan dibandingkan dengan lainnya yang disurvei IAP berdasarkan persepsi masyarakat. Kota terbesar kedua di Kalimantan Timur ini mengalahkan Yogyakarta yang meraihnya dua kali berturut-turut yakni pada 2009 dan 2011. Tak heran bila banyak pengembang, terutama asal Jakarta, yang melakukan ekspansi ke Balikpapan dengan membangun proyek-proyek hunian.

Bernadus mengatakan, survei ini merupakan persepsi aktual warga kota terhadap yang ditinggalinya. Ketujuh kota tersebut memenuhi 27 indikator diantaranya ketersediaan dan kualitas fasilitas meliputi kesehatan, pendidikan, rekreasi, energi listrik, air bersih, jaringan telekomunikasi dan ketersediaan lapangan pekerjaan. Selain itu tingkat aksesibilitas tempat kerja, tingkat kriminalitas, interaksi hubungan antarpenduduk, informasi pelayanan publik, dan ketersediaan fasilitas kaum difabel juga jadi pertimbangan penilaian.

Sementara untuk kota-kota yang masuk ketegori metropolitan, demikian Bernadus, nilainya malah jeblok alias di bawah rata-rata. Kota-kota itu adalah DKI Jakarta (62,14), Semarang ( 63,37), Medan (58,55), dan Surabaya (61,7). Bahkan, Medan merupakan kota dengan indeks paling rendah dibandingkan 17 kota lainnya yang disurvei, diikuti oleh Jayapura (58,96).

“Sekarang ini kota-kota menengah menjadi pilihan tinggal banyak orang, sebab metropolitan dan kota besar sudah terlalu padat, kemacetan terus bertambah dan kenyamanan pun berkurang,” tandasnya. (EKA)