Kamis, 17/07/2014

Bali Terus ‘Diguyur’ Proyek Kondotel Meski Okupansi Hotel Turun

-jktproperty.com
Share on: 926 Views
Bali Terus ‘Diguyur’ Proyek Kondotel Meski Okupansi Hotel Turun
Ilustrasi
RIBUAN KONDOTEL: Wilayah ekspansi kondotel pengembang terfavorit ada di Legian dan Seminyak, yakni sekitar 29% dari total pasokan yang akan masuk. Sementara di Jimbaran akan ada tambahan sekitar hampir 2.000 unit kondotel atau sekitar 24% dari pengembangan yang ada saat ini disusul kawasan Nusa Dua dimana akan ada penambahan sekitar 1.100 unit kondotel. Sementara proyek kondotel baru yang sudah existing hingga pertengahan 2014 mencapai 5.000 unit.

JAKARTA, jktproperty.com -Meskipun okupansi hotel di Bali mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir ini, pengembang tampaknya akan terus ‘mengguyur’ Pulau Dewata dengan proyek-proyek kondominium hotel (kondotel) baru. Konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia mencatat dalam beberapa tahun ke depan ada 8.000 unit kondotel baru yang akan beroperasi di Bali.

Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan wilayah ekspansi kondotel pengembang terfavorit ada di Legian dan Seminyak, yakni sekitar 29% dari total pasokan yang akan masuk. Sementara di Jimbaran akan ada tambahan sekitar hampir 2.000 unit kondotel atau sekitar 24% dari pengembangan yang ada saat ini disusul kawasan Nusa Dua dimana akan ada penambahan sekitar 1.100 unit kondotel. Sementara proyek kondotel baru yang sudah existing hingga pertengahan 2014 mencapai 5.000 unit.

“Ribuan unit kondotel itu tersebar di Pecatu dan Unggasan, Kuta dan Tuban, serta Legian dan Seminyak. Sebagian besar kondotel terkonsentrasi di area yang menjadi tujuan utama pengunjung di Bali, seperti di Kuta dan Seminyak,” katanya.

Selain di kawasan itu, kata dia, konsentrasi pengembang juga mengarah ke selatan Bali seperti Ungasan, Nusa Dua, Tanjung Benoa, dan Pecatu.

Turunnya okupansi hotel di Bali, berdasarkan catatan jktproperty.com juga disebabkan lantaran jumlah hotel yang diduga sudah masuk tahap over-supply. Setidaknya dalam kurun waktu 5-6 tahun ke belakang aktivitas ekspansi bisnis pengembang dengan membangun vila, hotel atau kondominium hotel (kondotel) semakin menunjukkan peningkatan signifikan. Dengan besarnya pasok kamar hotel di Bali, bila tidak diimbangi usaha ekstra keras melipatgandakan jumlah kunjungan wisatawan, maka otomatis tingkat okupansi hotel akan menciut. Lantas, bagaimana halnya dengan rental guarantee yang banyak diumbar pengembang kepada calon pembeli proyek propertinya?

Ya. Pengembang seperti tak henti-hentinya mengeksplor Bali, sebuah pulau yang menjadi bagian kepulauan Sunda Kecil, sepanjang 153 km dan selebar 112 km yang jaraknya hanya sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Sepertinya mereka merasa bukan ‘pengembang sejati’ bila tak memiliki proyek properti di Bali. Mereka terus membangun hotel atau kondotel di pulau ini.

Padahal, menurut penelitian yang dilakukan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata bersama dengan Universitas Udayana terhadap ketersediaan kamar hotel, villa dan pondok wisata di Bali pada 2010 lalu, Bali sebenarnya telah mengalami over-supply alias kelebihan kamar hotel. Tahun itu saja Bali sudah kelebihan 9.800 kamar hotel/penginapan.

Dengan 55.000 kamar hotel di Bali pada 2010, menurut penelitian itu, sebenarnya Bali tidak memerlukan lagi tambahan kamar hotel hingga 2015 mendatang. Bahkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Hengky Hermantoro mengungkapkan dengan jumlah kamar yang telah melebihi kebutuhan itu, sudah seharusnya Bali melakukan moratorium pembangunan hotel hingga lima tahun kedepan. Jika diperlukan kebijakan moratorium tersebut juga diimplementasikan dalam bentuk peraturan daerah (perda). Moratorium pembangunan hotel juga diperlukan untuk menjaga keserasian dengan daya dukung lingkungan.

Mengenai tren pembangunan kondotel di Bali yang seakan tak bisa direm, Arif mengatakan pengembang perlu memperhatikan kondisi penurunan okupansi hotel yang terjadi sejak empat tahun terakhir. “Pada 2010 sempat terjadi kenaikan okupansi hotel di Bali di atas 80%. Tapi sekarang okupansinya paling top hanya 70%,” katanya.

Ke depan, lanjut dia, penjualan kondotel di Bali akan menurun. Tapi, demikian Arief, itu semua tergantung dari masing-masing proyek, melihat lokasi pembangunan dan performa hotel itu sendiri nantinya. “Faktanya sampai hari ini sekitar 90% unit kondotel yang dikembangkan sudah sold out.” (LEO)