Minggu, 29/05/2011

Asia Dominasi Pertumbuhan Properti Ritel

-jktproperty.com
Share on: 833 Views
Asia Dominasi Pertumbuhan Properti Ritel

JAKARTA: Perusahaan konsultan manajemen global A.T. Kearney Juni lalu mempublikasikan risetnya mengenai pertumbuhan industri ritel di sejumlah negara di dunia. India, China, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Vietnam dalam laporan ini disebut-sebut memiliki pertumbuhan industri ritel tertinggi. Hal ini tentunya berdampak pada properti ritel yang diprediksi juga akan tetap tumbuh positif.

Publikasi A.T. Kearney bertajuk “Global Retail Development Index (GRDI) 2011” menilai kondisi industri ritel di 30 negara berkembang di dunia dan memeringkatkannya berdasarkan sejumlah faktor. Dalam daftar yang dikeluarkan kali ini, Brasil menempati posisi pertama sebagai negara berkembang dengan pertumbuhan industri ritel terbesar di antara 30 negara lainnya.

Tahun sebelumnya, Brasil menempati posisi 5 besar dunia. Khusus untuk kawasan Asia, GRDI menempatkan Indonesia pada posisi tiga besar sebagai negara dengan pertumbuhan industri ritel terbaik. Posisi teratas untuk kawasan ini ditempati India dan China, kemudian Indonesia, Filipina, Malaysia dan Vietnam.

GRDI menilai pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia akan tetap cerah dengan pertumbuhan permintaan domestik dan ekspor yang tinggi, penjualan ritel yang stabil dan membaiknya kepercayaan konsumen. GRDI memperkirakan bahan pangan merupakan sektor bisnis yang sangat penting bagi kawasan ini, bahkan bisa mencapai dua pertiga dari penjualan ritel.

Mengenai perkembangan industri ritel di Asia, Handa Sulaiman, Executive Director Cushman and Wakefield Indonesia mengatakan, prospek sektor ritel di Indonesia, China, dan India menunjukkan peningkatan karena kuatnya faktor pariwisata dan tingkat konsumsi di kawasan tersebut yang tinggi. “Sektor properti ritel menarik para investor secara signifikan di 2010 dan kuartal I-2011. Penyebabnya perbaikan sektor pariwisata antarnegara Asia, juga tingginya konsumerisme terutama di China,” ujarnya.

Peningkatan pasar ritel di tiga negara ini juga disebabkan oleh ekspansi para peritel lewat aset-aset mereka. Peritel dimulai dari jenis makanan, mode dan busana, peritel barang-barang konsumen yang bergerak cepat sampai barang-barang mewah. Didukung fundamental yang kuat, pembelian aset-aset sektor ritel tetap aktif pada 2011.

Untuk catatan transaksi di kawasan Asia Pasifik mencapai US$4,6 miliar pada kuartal pertama 2011. Sementara pada skala Indonesia, seperti diungkapkan Head of Research Procon Herully Suherman, bisnis ritel di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi masih baik. Peritel kian agresif untuk ekspansi ke pusat perbelanjaan. Dalam kuartal I-2011, Januari-Maret, penyerapan ritel di Jakarta naik 18,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dia mengatakan, penyerapan pasar ritel di Jakarta kuartal I-2011 mencapai 107.000 m2 atau naik 18,9%. Tingkat hunian naik dari 81% menjadi 84%. Sementara itu, harga rata-rata sewa ritel naik 4,4% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pengembangan bisnis ritel tahun ini diprediksi terus tumbuh dengan dominasi peritel di bidang mode serta makanan minuman. Hal ini tentu akan mendorong pengembang untuk membangun properti ritel baru. Tren itu sudah terlihat di sejumlah lokasi di Jakarta dan pinggiran Jakarta. (LEO)