Selasa, 27/03/2012

APLN Butuh Rp11 Triliun Akuisisi Lahan dan Bangun Proyek Baru

-jktproperty.com
Share on: 471 Views
APLN Butuh Rp11 Triliun Akuisisi Lahan dan Bangun Proyek Baru

JAKARTA: PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mengungkapkan membutuhkan dana sedikitnya Rp11 triliun dalam 3-5 tahun ke depan untuk akuisisi lahan dan mengembangkan 10-15 proyek properti baru. Kebutuhan dana tersebut di luar dana belanja modal tahun ini.

Direktur Keuangan APLN Cesar De La Cruz, mengatakan tahun ini APLN merencanakan membangun empat proyek propeti baru. “Tapi jumlahnya kemungkinan bisa bertambah. Dalam kurun waktu 3-5 tahun ke depan APL membutuhkan sedikitnya Rp11 triliun untuk akuisisi lahan dan pembangunan proyek-proyek baru,” katanya saat paparan publik APL di Jakarta hari ini.

Dia mengatakan untuk pengembangan proyek yang sudah mulai di-develop tahun ini, perseroan menganggarkan capex sebesar Rp3,5 triliun. Besarnya kebutuhan dana mengharuskan perseroan mengombinasikan berbagai opsi pendanaan yang ada. “Beberapa sumber pendanaan yang bisa digunakan adalah dari kas, pinjaman bank, uang muka pembelian properti, dan emisi obligasi,” tuturnya.

Berdasarkan laporan keuangan akhir 2011, kas internal perseroan mencapai Rp1,8 triliun. Rasio utang terhadap modal (gearing ratio) APLN per Desember mencapai 79%. “Kami masih bisa push gearing ratio sampai 100% atau di atas 100%. Selain dua opsi pendanaan di atas, perseroan berencana melakukan emisi obligasi dengan nilai di atas Rp1 triliun. Aksi korporasi tersebut paling cepat terealisasi Juli tahun depan,” kata Cesar.

Sementara itu dari laporan keuangan APLN, selama 2011 perusahaan tersebut diketahui mengalami lonjakan perolehan laba bersih sebesar 143% atau menjadi Rp684,9 miliar dari Rp281,8 miliar pada periode sebelumnya. Laba per saham dasar juga diketahui naik menjadi Rp28,34 dari tahun sebelumnya senilai Rp19,45. Perseroan juga mencatat kenaikan penjualan dan pendapatan usaha menjadi Rp3,8 triliun dari periode sebelumnya Rp1,9 triliun. Aset perusahaan ini sampai akhir 2011 tercatat Rp10,8 triliun atau tumbuh dari akhir tahun sebelumnya Rp7,7 triliun. (SIN)