Rabu, 20/04/2016

Andreas Nawawi: “Menjual Produk Properti Itu Mudah”

-jktproperty.com
Share on: 10069 Views
Andreas Nawawi: “Menjual Produk Properti Itu Mudah”
Andreas Nawawi

SERPONG, jktproperty.com – Di kancah bisnis properti Tanah Air, nama Andreas Nawawi sudah tak asing lagi. Namanya berkibar di era 2000-an di bawah bendera Sentul City lalu Lippo Group, pria kelahiran Bandung, 24 Juli 1957 ini kini tetap cemerlang menggawangi Paramount Land, satu dari sedikit pengembang yang termasuk cukup agresif dengan ide brilian melakukan penetrasi pasar. Satu ide brilian Paramount Group adalah memasarkan custom home, dimana konsumen bisa memilih desain rumah sesuai dengan keinginannya.

Lalu, di tengah melesunya pasar properti, terutama di segmen menengah atas yang menjadi target market Paramount Land, apakah perusahaan ini sulit menjual produknya. “Jawabannya tidak. Menjual properti itu mudah,” ujar suami dari Christine Yonia ini kepada media. Bahkan dia mengajak awak media yang hadir pada acara gathering di kantornya di Serpong, Tangerang, untuk ikut menjual properti. “Anda punya banyak network yang bisa dimanfaatkan, kenapa tidak? Selama Anda tahu produknya seperti apa dan menjual kepada orang yang tepat, bisnis terbuka di depan mata,” tutur Andreas.

Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB)  Politeknik Mekanik Swiss ini mengungkapkan bahwa menjual properti itu mudah yang penting harus memahami produk yang akan dipasarkan serta siapa sasaran yang akan dituju. “Kita mengenal istilah 2M untuk sasaran yang akan kita tawarkan yakni ‘mau’ dan ‘mampu’,” katanya.

Menjual produk termasuk properti, kata dia, haruslah kepada orang-orang yang kita kenal, untuk itu sangatlah penting seorang marketing membina jaringan. “Saya dalam membina hubungan tidak memandang derajat pendidikan, pangkat, atau apapun. Semua saya gandeng untuk membangun jaringan.”

Andreas mengatakan dalam membina jaringan harus memperhatikan terhadap kendala sekecil apapun, harus ditangani dengan hati-hati agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. “Harus juga diingat dalam proses menjual harus dilaksanakan dengan terbuka, tidak ada yang rahasia atau sesuatu yang disembunyikan,” ujar ayah dari  Veronica, Debora, dan Abraham ini menjelaskan.

Andreas menyarankan sebelum menawarkan produk properti, penjual terlebih dahulu menyiapkan daftar pembeli prospektif atau diistilahkan sebagai hit list. Mereka dipilih berdasarkan 2M tadi yakni Mau dan Mampu. Sebelum melakukan penawaran, penjual harus yakin dulu pada pemahaman tentang produk, pasar, serta yang lebih penting pada konsumen yang akan kita tuju.

Berikutnya dari daftar yang telah kita buat, mulai melakukan pendekatan secara benar dan terarah, kemudian dilanjutkan dengan membangun hubungan, memperkuat jaringan, serta mengembangkannya. “Menjual itu sama dengan memindahkan keyakinan. Untuk itu sebelum menjual produk seorang marketing dituntut memiliki pemahaman terlebih dahulu terhadap produk yang akan dijual.”

Andreas menyarankan bertindaklah sebagai seorang sahabat, menjadi pendengar yang baik, serta hasilnya harus “win-win condition” artinya penjual senang, pembeli puas. Dalam membina pembeli kita mengenal tahapan-tahapannya yang disebut AIDA, yakni Attention (perhatian), Interest (ketertarikkan), Desire (keinginan), dan Action (Aksi).

Penjual yang baik harus mampu memberikan motivasi serta memunculkan antusias bagi konsumen. Untuk itu perlunya mengenal siapa konsumennya, kemudian kuasai, berikan motivasi adanya masa depan yang cerah apabila membeli produk tersebut.

Penjual juga harus membagi jaringannya ke dalam dua kelompok yakni berpengaruh dan perhatian. Kelompok berpengaruh ini sangat penting karena dipastikan akan membeli produk yang kita tawarkan, sedangkan untuk perhatian sewaktu-waktu mereka akan membutuhkan produk kita, jelas Andreas. (DHP)