Kamis, 28/02/2013

Ancol Perlu Fokus Kembangkan Wisata Edukasi Maritim

-jktproperty.com
Share on: 1473 Views
Ancol Perlu Fokus Kembangkan Wisata Edukasi Maritim

JAKARTA, jktproperty.com – Kawasan wisata Ancol Taman Impian—selanjutnya disebut Ancol—yang dikelola PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. saat ini tercatat sebagai kawasan wisata terpadu terbesar di Asia Tenggara. Berdiri di atas lahan seluas 553 hektar di Jakarta Utara, tidak banyak yang tahu kalau fasilitas yang terdapat di Ancol seperti Dunia Fantasi (Dufan) dan Atlantis Water Adventure menjadi fasilitas amusement park/theme park yang diperhitungkan di kancah internasional.

Nama Ancol sebagai kawasan wisata sudah bisa disandingkan dengan grup-grup besar yang mengelola amusement park atau theme park di banyak negara seperti Universal Studios Recreation Group yang mengoperasikan Universal Studios atau Walt Disney Attractions Group yang memboyong brand Disneyland di banyak belahan dunia.

Pada 2011 misalnya, Atlantis Water Adventure, satu fasilitas yang terdapat di Ancol, masuk dalam Top 20 Water Parks Worldwide dalam laporan tahunan Theme Index 2011 yang dipublikasikan Themed Entertainment Association (TEA) bekerjasama dengan AECOM. Berada di posisi ke-12, Atlantis Water Adventure mampu mengungguli water park Wild Wadi di Dubai; Summerland (Tokyo, Jepang); Water Kingdom (Mumbai, India); Beach Park (Aquiraz, Brasil); Happy Magic Water Cube (Beijing, China); atau Water Country USA (Williamsburg, AS).

Sedangkan untuk amusement/theme park, Dunia Fantasi masuk dalam daftar 20 theme park terbaik di Asia, yakni di posisi ke-18, mengungguli theme park Happy Valley yang ada di Chengdu dan Shanghai, keduanya di China. Untuk water park, Atlantis Water Adventure bahkan berada di posisi ke-6 dalam Top 15 Water Parks in Asia 2011. Bahkan pada 2010, Ancol dinobatkan sebagai theme park terbaik di Asia dan terbesar kelima di dunia dilihat dari kategori jumlah pengunjung yang saat itu mencapai 14,5 juta orang. Sementara tahun ini Ancol menargetkan jumlah pengunjung sebanyak 15,7 juta.

Kita tentu bangga dengan prestasi Ancol yang bisa mengangkat nama Indonesia di kancah persaingan amusement park dan theme park global. Kita bangga juga dengan masuknya beberapa water park Indonesia seperti Ocean Park Water Adventure yang dikembangkan PT Bumi Serpong Damai Tbk. dan The Jungle Water Adventure (PT Bakrieland Development Tbk.) dalam peta persaingan global. Namun, nature-nya, bisnis tetaplah bisnis. Sebab, bagaimana pun juga, amusement park atau theme park adalah sebuah bisnis yang tak mungkin lepas dari persaingan usaha karena di dalamnya ada investasi besar yang ditanamkan dan jumlahnya wah. Artinya, di masa mendatang Ancol harus melakukan serangkaian terobosan bila tetap mau diperhitungkan di tingkat nasional, regional, maupun global.

Soal kompetisi theme park, ada contoh kasus menarik yang terjadi di Hong Kong. Sejak dibuka pertama kali pada 1977, Ocean Park Hong Kong merupakan tempat wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan lokal dan luar negeri. Hampir tiga dekade lamanya pengelola Ocean Park berjalan tanpa pesaing yang berarti. Namun pada 2005 ketika Disneyland dibuka di Hong Kong, pengelola Ocean Park benar-benar harus berjibaku menghadapi persaingan yang ketat dengan Disneyland Hong Kong.

Kehadiran Disneyland jelas mengusik kenyamanan Ocean Park. Pengelola mengantisipasinya dengan menambah wahana baru enam bulan setelah Disneyland dibuka. Perang itu terjadi terus-menerus sampai sekarang. Disney menghadirkan Tomorrowland dan Toy Story Land. Ocean Park pun ‘membalasnya’ dengan menyajikan wahana baru yang tak kalah spektakuler. Persaingan theme park di Hong Kong dipastikan akan semakin ketat dengan akan hadirnya Shanghai Disney Resort di Shanghai yang dijadwalkan beroperasi pada Desember 2015 mendatang.

Artinya apa? Bukan hal mustahil bila Ancol pun akan masuk dalam ‘pertempuran’ antara theme park yang kini banyak dibangun dan akan dibangun investor. Bahkan kabarnya, ada investor yang berencana membangun Disneyland di kawasan dekat Jakarta. Sudah bisa dipastikan jumlah pengunjung yang akan tersedot ke theme park baru tersebut bisa mengurangi jumlah pengunjung yang ditargetkan datang ke Ancol. Ini yang harus dianstisipasi PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk.

Memenangkan Persaingan

Dalam upaya memenangkan persaingan bisnis, setidaknya ada tiga kunci utama yang mesti diperhatikan. Pertama, adalah menjadi yang pertama (be the first) atau menjadi yang pertama. Ancol sudah memiliki kunci ini. Ancol bisa dikatakan sebagai kawasan wisata pertama di Indonesia. Secara historis kawasan wisata Ancol punya sejarah panjang. Dulu, pada abad ke-17, ketika Indonesia masih dijajah Belanda dan Jakarta masih bernama Batavia, Ancol sudah dikenal sebagai tempat rekreasi. Saat itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda Adriaan Valckenier membangun rumah peristirahatannya di tepi pantai di kawasan Ancol. Sejak itu kawasan yang terkenal dengan pantainya yang bersih ini selalu ramai dikunjungi orang.

Seniman Belanda Johhanes Ranch pernah melukis panorama Ancol abad itu dan terlihat bahwa selain rumah sang gubernur jenderal Belanda yang megah, juga terdapat banyak vila atau rumah peristirahatan di sepanjang pantai ini. Dari sisi geografis Ancol memang kurang menguntungkan karena berada di dataran rendah yang dipenuhi rawa. Namun, pantainya layak dijadikan tempat tinggal karena letaknya yang landai membuatnya terlindung gugusan Kepulauan Seribu sehingga kawasan ini aman dari terpaan ombak Laut Jawa yang terkenal ganas.

Namun usai Perang Dunia II yang berlanjut pada perang kemerdekaan RI, kawasan wisata Ancol menjadi tak terurus. Sungai Ciliwung yang bermuara ke Kali Ancol (Antjol Vaart) justru menumpahkan lumpur yang membuat Ancol menjadi kumuh dan kotor. Tak heran kalau dulu orang mengenal kawasan ini sebagai ‘tempat jin buang anak’. Wabah penyakit malaria juga membuat eksodus besar-besaran warga yang tinggal di sekitar Ancol, kira-kira akhir abad ke-18. Di masa Jepang berkuasa, Ancol bahkan dipakai sebagai ladang eksekusi mati dan tempat pemakanam warga Eropa, terutama orang Belanda yang berani melawan pemerintahan Jepang yang menjajah Indonesia saat itu.

Sempat terbersit ide untuk menyulap Ancol menjadi kawasan industri. Tapi Soekarno, presiden RI pertama, menolak usulan itu dan menginginkan tetap menjadikan Ancol sebagai daerah wisata. Pada Desember 1965 Soekarno menugaskan Gubernur DKI Jakarta Soemarno untuk membangun kawasan wisata itu dengan nama Taman Impian Jaya Ancol. Namun proyek ini baru terealisasi di masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1966. Pembangunan Taman Impian Jaya Ancol saat itu dilaksanakan PD Pembangunan Jaya di bawah pimpinan Ir. Ciputra.

Awalnya yang dibangun adalah kawasan pantai Bina Ria Ancol dengan teater mobilnya di era 1970-an. Ancol terus berbenah diri dengan mengadopsi permainan berteknologi tinggi dengan membuka Dunia Fantasi (Dufan), sekaligus menjadi theme park pertama di Ancol. Selain Dufan terdapat pula Atlantis Water Adventure, Sea World, dan yang terakhir dibuka adalah Eco Park. Langkah manajemen PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. ini yang mengalihkan fungsi padang golf seluas 33 hektar menjadi Eco Park patut diacungkan jempol. Sebab, selain berfungsi menjadi paru-paru kota dengan penanaman ribuan pohon langka, Eco Park juga menjadi kawasan wisata edukasi lingkungan hidup.

Prasyarat memenangkan persaingan kedua adalah menjadi berbeda dengan kompetitor (be different) atau dalam konsep marketing dikenal dengan istilah diferensiasi produk. Nah, yang membedakan Ancol dengan tempat wisata sekelas theme park di Jakarta adalah pantainya yang langsung berhadapan dengan Laut Jawa. Ini yang tidak dimiliki theme park di kawasan Jakarta dan sekitarnya yang seharusnya dijadikan keunggulan dan ‘nilai jual’ Ancol sebagai kawasan wisata terkemuka di masa mendatang.

Wahana water park yang telah ada di Ancol sebenarnya tak jauh berbeda dengan wahana di water park yang ditawarkan Ocean Park Water Adventure (BSD), The Jungle Water Adventure (PT Bakrieland Development Tbk.) atau Snow Bay Watertainment di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Meski harus berkata jujur, water park Ancol belum terkalahkan dibandingkan pesaingnya. Untuk membuat grade Ancol menjadi lebih baik, ke depan Ancol ditantang untuk bisa menghadirkan theme park bertemakan maritim atau bahari yang tentu lebih kompleks dibandingkan water park.

Mengapa theme park maritim diusulkan? Kita sama-sama tahu bahwa negeri kita adalah negeri maritim. Nenek moyang kita adalah pelaut. Wilayah lautan Indonesia yang mencapai 82% membuat negeri ini disebut sebagai negara kepulauan dan maritim dan itu telah ditetapkan The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) pada 1982. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut seluas 5,8 juta km2 yang terdiri dari wilayah teritorial sebesar 3,2 juta km persegi dan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) 2,7 juta km2. Selain itu, terdapat 17.508 pulau di Indonesia dengan garis pantai sepanjang 95.181 km. Potensi inilah yang harus bisa diangkat oleh Ancol menjadi theme park yang menarik yang lebih mengarah pada wisata edukasi maritim.

Memang, pada 2011 lalu pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata telah menetapkan 12 kawasan kepulauan di Indonesia sebagai destinasi bahari unggulan. Ke-12 destinasi unggulan itu masing-masing adalah Kepulauan Padaido di Biak, Papua, kemudian Kepulauan Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Kepulauan Derawan (Kalimantan Timur), Kepulauan Selayar di Takabone Rate (Sulawesi Selatan), Pulau Nias dan Kepulauan Mentawai (Sumatra Utara), Kepulauan Raja Ampat (Papua Barat), Kepulauan Ujung Kulon dan Anak krakatau (Banten), Pulau Komodo (Nusa Tenggara Timur), Teluk Tomini di Kepulauan Tongean (Sulawesi Tengah), Kepulauan Bali dan Lombok, lalu Balerang (Kepulauan Riau), dan Kepulauan Seribu (DKI Jakarta).

Karena Ancol terletak di Jakarta yang merupakan Ibu Kota pemerintahan, maritime theme park yang dibangun harus bisa merepresentasikan seluruh potensi wisata bahari yang ada di Indonesia. Misalnya dengan mengetengahkan wahana Pinisi, sebuah kapal bikininan pelaut Bugis yang konon telah dipakai pelaut-pelaut kita sebelum tahun 1500-an hingga melanglang buana. Korea sudah membangun Jinpo Maritime Theme Park pada 2008, sementara Singapura membangun Marine Life Park di Kepulauan Sentosa dengan oceanarium-nya yang menakjubkan.

Peluang membangun theme park bertemakan maritim atau bahari ini harus segera ditangkap manajemen pengelola Ancol. Sebab belum lama ini ada kabar beberapa investor asal Singapura tertarik mengembangkan maritime theme park di Kepulauan Riau. Sebelum ide maritime theme park direalisasikan orang asing, perusahaan pengelola theme park di Indonesia harus lebih merealisasikan ide ini dan Ancol punya potensi besar untuk mengembangkan maritime theme park yang lebih dasyat dibandingkan Korea atau Singapura yang nota bene bukan negara maritim.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pernah mengatakan bahwa Indonesia harus mulai menyadari jati dirinya sebagai bangsa maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia. Untuk itu, upaya pembangunan harus memberikan perhatian khusus pada kebaharian. Pada titik inilah Ancol bisa menjadi pelopor maritime theme park di Indonesia bermodalkan posisi geografisnya yang memang berada di pantai dan berhadapan langsung dengan Laut Jawa.

Untuk memenangkan persaingan, prasyarat yang ketiga adalah menjadi yang terbaik (be the best). Untuk mengelola theme park bertemakan maritim atau bahari secara profesional, hal itu tampaknya tak perlu diragukan lagi. Pasalnya sejak 2 Juli 2004 Ancol sudah go public dan mengganti statusnya menjadi PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., dengan kepemilikan saham 72% oleh Pemprov DKI Jakarta dan 18% oleh PT Pembangunan Jaya sedangkan sisanya 10% dimiliki masyarakat. Langkah go public ini, seperti diakui pihak perseroan, dilakukan untuk lebih meningkatkan kinerja perusahaan. Dengan menjadi perusahaan publik, manajemen pengelolaan Ancol menjadi lebih terkontrol, terukur, efisien dan efektif dengan tingkat profesionalisme yang tinggi serta menciptakan sebuah good and clean governance.

Wisata Edukasi Maritim

Untuk memenangkan persaingan theme park, baik di tingkat nasional, regional, maupun global, Ancol sudah memiliki ‘modal’ cukup. Lantas yang menjadi pertanyaan konsep wisata edukasi maritim seperti apa yang perlu dibangun di Ancol? Hal itu tentunya berpulang pada potensi maritim yang ada di Indonesia. Masing-masing potensi maritim inilah yang kemudian dikemas dalam berbagai bentuk wahana rekreasi edukatif yang diusahakan dapat menarik minat pengunjung untuk berwisata sekaligus menggali ilmu.

Mendesain Pantai Ancol untuk bisa langsung dikunjungi wisatawan asing yang menggunakan cruise juga akan memperkuat positioning Ancol di dunia internasional. Tahun lalu pihak Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelindo II kabarnya sudah sepakat membangun fasilitas dermaga khusus di kawasan perairan Ancol Timur untuk kegiatan sandar kapal penumpang dan wisata atau cruise bertaraf internasional. Tahun ini persiapan desain dan teknis pembangunan dermaga cruise itu akan segera disiapkan. Berita ini jelas merupakan kabar baik yang dari sisi infrastruktur bisa semakin melengkapi Ancol sebagai kawasan wisata edukasi maritim.

Selain itu, event seperti lomba perahu layar internasional perlu direalisasikan agar nama Ancol menjadi lebih dekat di hati wisatawan asing. Selama ini Ancol dikunjungi rata-rata 14 juta orang dalam setahun. Namun sebagian besar atau 85% pengunjung adalah wisatawan lokal, sisanya wisatawan asing. Dengan menggelar event berskala internasional, otomatis Ancol lebih dikenal di mata internasional dan dari situ diharapkan jumlah wisatawan asing yang berwisata ke Ancol juga meningkat. Bisa jadi masih minimnya wisatawan asing yang datang ke Ancol disebabkan karena Ancol belum menawarkan sesuatu yang berbeda dengan theme park yang mungkin ada di negara asal wisatawan itu.

Di masa mendatang kita sangat mengharapkan Ancol bisa menjadi kawasan wisata edukasi maritim, bukan hanya terbesar di Indonesia, tapi di dunia. Semua itu bukan mimpi dan bisa direalisasikan, sebab Indonesia adalah negara maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia. (Deddy H. Pakpahan)